SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Mobil Cepu Limited (MCL), Operator Migas Blok Cepu, belum dapat memberikan kepastian apakah pemblokiran yang dilakukan warga Mojodelik di jalan menuju Well Pad A Banyuurip, sejak Rabu (13/06/2012) kemarin, mengganggu kegiatan produksi Banyuurip. Karena sekarang ini, PT. Tripatra Engineers & Constructors, pelaksana proyek Engineering, Procurement and Constructions (EPC) 1 Banyuurip masih melakukan pertemuan dengan Kepala Desa, tokoh masyarakat dan perwakilan pemuda Mojodelik di rumah Kades.
“Kita tunggu hasil meeting-nya (rapat) dulu ya mas,” elak Rexy Mawardijaya, Field Public and Government Affairs Manager MCL melalui pesan pendeknya kepada www.suarabanyuurip.com, Kamis (14/06/2012).
Padahal, jalan yang diblokir warga ini merupakan akses satu-satunya bagi pekerja MCL untuk masuk lokasi Sumur Minyak Banyuurip, Blok Cepu, yang sekarang ini tengah dieksploitasi. Rata-rata produksi minyak Banyuurip per harinya mencapai 20 ribu barel.
Dalam pemblokiran tersebut, puluhan warga memasang bambu ditengah jalan. Mereka melarang semua mobil operasional masuk ke lokasi Well Pad A maupun Sumur minyak Banyuurip. Massa yang berdiri dipinggir jalan langsung menghentikan dan menanyakan identitas kendaraan operasional yang ingin masuk lokasi.
“Hanya Dump truk yang boleh masuk. Lainnya tidak boleh,” tegas Suyoto, Ketua Karang Taruna Desa Mojodelik.
Sementara itu, salah satu leader pengurukan lahan PT. RMT, Kamidin mengaku, aksi yang dilakukan warga ini sempat menggangu pengiriman pedel ke lokasi Well Pad A Banyuurip. Biasanya, setiap hari dapat mengirim 2 ribu kubik pedel, kemarin harus terhenti karena dihadang warga. Setiap kubiknya pedel tersebut seharga Rp. 67 ribu.
“Tentu ya rugi mas. Pekerjaan jadi tidak lancar,” timpal warga Templokorejo, Desa Gayam ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, pemblokiran jalan ini dilatarbelakangi oleh tidak direkrutnya warga Mojodelik dalam pelatihan sertifikasi scaffolder oleh PT. Tripatra. Dalam aksinya ini warga menuntut kepada Tripatra untuk menggunakan 50 persen tenaga kerja dari Desa Mojodelik.(suko)Â Â