Bisa jadi aktivitas pengais limbah ini berbeda dengan umumnya profesi pemulung. Mereka menantang maut demi memburu limbah industri.
Sekelompok lelaki muda bergerombol di tepi jalan. Matanya nanar menatap setiap truk yang ke luar dari komplek pabrik semen PT Semen Gresik (Persero) Tbk, di sudut Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jatim.
Truk sarat muatan limbah pabrik itu langsung dihadang agar mengurangi laju. Sebagian diantaranya dengan sigab melompat bak truk. Secara sigap pula mereka mengais limbah kertas, besi dan plastik, untuk kemudian di lempar ke temannya yang berlari mengiringi truk dari samping dan belakang.
Tak lama berselang limbah yang ditaksir bisa dijual ke pengepul sampah itu berpindah tangan. Sekelompok pemuda di atas truk pun turun dari truk yang masih melaju dengan kecepatan sedang. Hasil pulungan pun terkumpul, teronggok di tepi jalan.
“Pekerjaan ini sudah kami lakukan lebih dari 10 tahun, Mas,†kata seorang pria asal Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban saat ditemui SuaraBanyuurip,com di pinggir jalan akses pabrik di Sumberarum, Rabu (20/6/2012).
Penghadangan truk sarat muatan limbah, sebenarnya bukan hal baru bagi komunitas pemulung dari desa sekitar pabrik. Bahkan, menurut salah satu pemulung disana, profesi menantang maut ini sudah berlangsung hampir 20 tahun. Mungkin sejak pabrik semen berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini beroperasi di Bumi Ranggalawe pada medio awal 1990-an.
Beragam faktor melatarbelakanginya kenekadan mereka. Sebagian menganggap sebagai pekerjaan sambilan, disaat musim terik datang karena lahan pertanian mereka tadah hujan. Sebagian lainnya menjadikan ‘bajing loncat’ truk limbah pabrik ini sebagai profesi. Yang pasti belitan ekonomi masih menjadi alasan nomor wahid, dalam profesi yang dilakoni mulai pukul 07.30-16.00 WIB tersebut.Â
“Kami bekerja secara berkelompok, Mas. Hasilnya pun kita bagi rata,†timpal pemulung lain, sambil membasuh keringat dengan ujung kaos kumalnya, selepas memilah hasil buruan di tepi jalan.
Profesi sarat tenaga dan keberanian ini, bukannya tak memiliki risiko. Tak hjarang mereka terhempas di tanah hingga menderita luka. Namun demikian tak menjadikan mereka jera.
Sejumlah pemulung mengakui telah beberapa kali terjatuh dari truk. Tentunya dengan luka berat sampai patah tulang dan luka-luka ringan. Bahkan pernah pula terjadi kecelakaan sampai mengakibatkan pemulung tewas. Mereka menyadari pekerjaan apapun memiliki risiko. Resiko itu mereka terima sebagai bagian konsekuensi pekerjaan.
Apabila dibandingkan dengan risiko yang diterimanya, pekerjaan ini memang tak layak diteruskan. Rata-rata mereka mendapatkan hasil Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per hari setiap orang. Besar kecilnya pendapatan sangat dipengaruhi oleh banyak sedikitnya limbah yang mereka kumpulkan secara berkelompok.
“Hasilnya paling banyak tidak sampai 30 ribu, setelah dibagi bersama. Itupun jarang, Mas, †ujar pemulung lainnya.
Rehat tak sampai menghabiskan sebatang rokok. Sebuah truk kembali ke luar dari pintu komplek pabrik. Pemulung yang tadi menangkan lemparan limbah dari karibnya di atas truk, kini gantian melompat bak. Kawannya yang saat truk sebelumnya di atas bak, berperan sebagai penerima lemparan di bawah.
Tak ada pertikaian. Tak ada pula saling iri dalam pembagian giliran melompat dan menerima lembaran limbah. Mereka membagi hasil secara merata, sesuai jumlah limbah yang mereka jual hari itu juga.
Keberadaan kelompok pemulung yang saban hari menghadang truk limbah, ternyata tak diketahui para pejabat di PT SG. Bisa jadi mereka yang berasal dari desa-desa ring 1 pabrik itu, dianggap bagian luiar dari keberadaan pabrik. Sekalipun saban hari mereka memiliki peran dan fungsi berbeda dari pabrik semen terbesar di tanah air itu.Â
Kabiro Hubungan Masyarakat PT S, Harry Soebagyo, saat dikonfirmasi masalah itu menyatakan, belum ada laporan yang masuk ke lembaganya terkait keberadaan kelompok pemulung itu. Baginya, selama ini yang dia tahu pemulung yang berada di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.
“Untuk itu saya akan konfirmasi kebeberapa teman-teman yang ada di lapangan, Mas,†ujar Harry Subagyo melalui ponselnya. (edy purnomo)