SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Pemblokiran jalan yang dilakukan warga dari 15 desa Ring 1 Banyuurip yang tergabung dalam aliansi masyarakat bersatu dan kontraktor lokal (AMBKL), Senin (25/06/2012), membuat aktifitas proyek engineering, procurement and construction (EPC) 1 Banyuurip, Blok Cepu, yang dilaksanakan PT. Tripatra Engineers & Constructors, mandeg. Meskidemikian, kegiatan produksi Banyuurip sebesar 20 ribu barel per hari (bph) oleh Mobil Cepu Limited (MCL), Operator Migas Blok Cepu, tetap berlanjut.
Berhentinya kegiatan proyek EPC 1 Banyuurip itu dikarenakan warga memblokir jalan ditiga titik yang menajdi akses utama menuju lokasi proyek. Yakni di perempatan Pasar Desa Gayam, dekat Gas Oil Separation Plant (GOSP) dan pertigaan Dusun Joho, Desa Brabowan, Kecamatan Ngasem, yang merupakan pintu masuk Well Pad A.
Akibatnya, proyek penyiapan lahan yang sedang dilaksanakan PT. Rajekwesi Mitra Tama -PT. Pembangunan Perumahan (RMT-PP), subkontraktor Tripatra terhenti. Dump truk pengangkut tanah urug tidak dapat masuk lokasi Well Pad A dan B di Desa Mojodelik dan Well Pad C di Desa Gayam.
Aksi ini hanya diikuti sekitar 20 orang saja yang terbagi di tiga titik pemblokiran. Padahal sebelumnya AMBKL mengajukan pemberitahuan kepada Polres demontrasi ini ikuti sekitar 5 ribu massa. Dalam aksinya, segelintir massa itu memasang dua drum dikanan-kiri jalan di tiga lokasi sambil memasangi poster bertulisakan “MCL Jalan Terus, Tripatra Stop”.
Meski demikian, aksi tersebut mendapat pengawalan aparat kepolisian dari sejumlah polsek sekitar wilayah Gayam. Seperti Polsek Gayam, Kalitidu, Malo, dan Purwosari. Lain itu, tampak sejumlah polisi berpakaian preman juga memantau aksi tersebut.
Koordinator Aksi Sumber Purnomo menegaskan, aksi ini akan terus dilakukan sampai ada titik temu antara kontraktor lokal dengan Tripatra.
“Kita akan terus memblokir jalan sampai Tripatra memenuhi tuntutan AMBKL,” kata Sumber Purnomo kepada www.suarabanyuurip.com di kantor PT. Gayam Asri Manunggal.
Dia menjelaskan, ada lima tuntutan yang dilayangkan AMBKL kepada Tripatra. Yakni menuntut Tripatra transparan dalam pelelangan, memprioritaskan kontraktor dan mempekerjakan masyarakat lokal, dan memberdayakan kontraktor lokal, memkasimalkan peran Forum Kontraktor Lokal (FKKL) dalam memberdayakan kontraktor lokal, dan segera mengeluarkan program corporate social responsibility (CSR) untuk memberdayakan masyarakat lokal.
“Masyarakat Ring 1 harus diberdayakan, jangan dibinasakan. Itu tanggungjawab dan wajib dilaksanakan Tripatra,” tandas Pak Ed-panggilan tenarnya.
Terpisah, Community Affairs PT. Tripatra Engineers & Constructors, Budi Karyawan membenarkan bila semua aktifitas proyek EPC 1 Banyuurip dihentikan. Itu dilakukan untuk menjaga keselamatan para pekarja.
“Kita bukannya takut (dengan aksi warga), tapi mengutamakan keselamatan pekerja. Besok kegiatan kita mulai lagi,” sambung Budi.
Sementara itu, Fiel Public and Goverment Affiars Manager MCL, Rexy Mawardijaya menegaskan, bila kegiatan produksi baik di GOSP maupun Sumur Minyak Banyuurip tetap berjalan normal. Sebab, sesuai informasi yang dia terima, aksi yang dilakukan kontraktor lokal tersebut ditujukan kepada Tripatra, bukan MCL.
“Kami sudah meminta kepada Tripatra untuk memberikan penjelasan kepada pihak terkait,” pungkas Rexy, melalui pesan pendeknya. (suko)