SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro– Kepala Desa Gayam, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Pujiono membantah telah memerintahkan warga untuk membuat sumur baru guna kebutuhan proyek migas Blok Cepu. Pernyataan ini disampaikan untuk mengklarifikasi pengakuan Sumanggar, warga Desa Ringintunggal, Kecamatan Ngasem, yang menyatakan telah diperintah 7 kepala desa ring 1 sumur minyak Banyuurip untuk membuat sumur kepada Tim Optimalisasi Kandungan Lokal pada saat inspeksi mendadak (Sidak), Selasa (17/7/2012) lalu.
“Apa yang dituduhkan kepada kades disini itu tidak benar. Sebab sepengatahuan saya sumur milik warga di Ringintunggal ada banyak,dan itu sudah ada dari dulu sebelum MCL beroperasi di Bojonegoro,†jelasnya kepada www.Suarabanyuurip.com melalui telepon genggamnya (Telgam), Jum’at (20/07/2012) pagi tadi.
Pujiono menegaskan, selama ini dirinya ataupun kepala desa lainnya sekitar Banyuurip yakni Bonorejo, Brabowan, Begadon, Ringintunggal serta Mojodelik tidak pernah sekalipun memerintahkan warga untuk membuat sumur untuk memenuhi kebutuhan proyek di engineering, procurement and construction (EPC) 1 Banyuurip.
Menurut dia, tudingan yang dialamatkan kepada kepala desa tersebut hanya mencari kambing hitam. Karena saat ini sedang berlangsung proyek EPC 1 yang membutuhkan air banyak dimanfaatkan oleh warga sebagai ajang bisnis.
“ Kalau ternyata hasil Sidak kemarin dipakai untuk proyek migas, saya tidak tahu sama sekali. Kemungkinan besar bebebarapa warga hanya ingin memanfaatkan peluang itu tanpa mengetahui dampaknya jika dipakai untuk proyek dan aturan yang berlaku seperti ijin dan lain sebagainya. Maklum mbak, orang desa, jadi taunya ya uang,†papar pria yang juga Ketua Forum 15 Kepala Desa Banyuurip atau dikenal Gank (G) 15 ini.
Pujiono juga mengaku, selama ini pemerintah desa kurang mengontrol penggunaan sumur-sumur di desa sekitar Banyuurip. Karena sepengatahuannya sumur-sumur itu dimanfaatkan masyarakat untuk pengairan sawah atau irigasi.
“ Kalau di Desa Gayam jelas tidak ada sumur. Karena pengalaman beberapa waktu lalu ketika warga membuat sumur justeru keluar gasnya, Jadi saya tidak mungkin menyuruh warga buat sumur,†tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam sidak Tim Optimalisasi Kandungan Lokal menemukan sumur tradisonal milik Sumanggar yang diduga untuk memenuhi kebutuhan proyek migas Blok Cepu. Sumur yang dibor dengan kedalaman 13 meter itu terletak di lahan milik Negara yang disewakan kepada warga.
Setiap harinya hampir 175.000 liter air diambil dari dalam sumur dan diangkut dengan mobil tanki berpakapasitas 5000 liter.Diduga air dari sumur itu untuk penyiraman jalan proyek migas.
Setiap air diangkut mobil tanki warga memperoleh imbalan Rp. 25.000. Namun penggunaan air sumur itu belum dilengkapi surat ijin pengambilan air (SIPA) dari Badan Perijinan Bojonegoro. (suko)