Hormati Ramadhan Pedagang Tuak Libur

Kios tuak tutup

DUDUK  melingkar sembari menikmati tuak yang dipadu beragam camilan ringan di tepi jalan.  Sesekali terdengar canda khas masyarakat pinggiran yang meningkahi alunan gending-gending Tayub dari radio transistor.

Suasana khas dari kota Tuban itu seolah tenggelam disaat puasa Ramadhan berlangsung. Padahal pemandangan itu menjadi warna tersendiri dari kehidupan kota di Bumi Ranggalawe. Hampir setiap sudut kota terdapat pria tua dan muda bergerombol, mengitari pedagang tuak.

Menurut beberapa sumber, Pedagang yang biasa menyediakan tuak merasa enggan berjualan saat bulan puasa. Beragam alasan mereka ungkapkan. Salah satunya faktor penghormatan saat bulan suci ini datang.

“Sungkan, dik. Meski jarang puasa kan kami juga menghormati orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Lha satu tahun sekali saja kok,” ungkap Sakur (50), pedagang tuak yang biasa mangkal di Jalan M Yamin-Tuban, Jumat (27/7/2012).

Selain itu, pedagang lain mengaku saat bulan puasa penderes lebih senang mengganti produksi tuaknya menjadi legen. Selain karena alasan di atas, faktor ekonomi juga menjadi alasannya. Karena legen selalu menjadi minuman yang diburu warga saat buka puasa tiba.

Baca Juga :   Perempuan Wonocolo Kembangkan Kerajinan Talikur

“Saya ganti legen, karena penjualannya bisa mencapai tiga kali lipat daripada hari biasa. Selain itu satu botol legen bisa saya hargai hingga mencapai 7.000 rupiyah. Kalau tuak paling banyak hanya 5.000,” ungkap Kemin (45), penderes tuak yang ditemui secara terpisah.

Namun, tradisi ini tidak lantas hilang begitu saja. Beberapa pedagang tuak sengaja mengganti waktunya menjadi malam atau beralih ketempat yang jauh dari jangkauan umum. Seperti yang terlihat di bangunan mangkrak pasar besar Kelurahan Mondokan, Kecamatan Kota, beberapa tempat di Desa Boto, Kecamatan Semanding, persawahan yang ada di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak dan beberapa tempat di Desa Tunah, Kecamatan Semanding.

“Di daerah Jalan Manunggal juga ada, tapi yang masuk ke utara dekat dengan perkebunan belimbing,” ujar salah satu penikmat Tuak yang enggan disebut namanya.

Saat dikonfirmasi terkait ini, Kepala Satuan polisi pamong praja (Satpol PP) Tuban, Heri Muharwanto, mengaku, pihaknya tidak pernah melakukan razia kepada pedagang minuman keras masyarakat ini. Selama ini hanya memberikan penyadaran dengan mendatangi pedagang di tempat jualannya.

Baca Juga :   2 Sumur Tua di Petilasan Angling Dharma

“Kita hanya melakukan pembinaan saja selama dua kali sebelum puasa, dan mereka sudah sadar,” jawab Heri melalui ponselnya.

Beberapa tempat yang biasa digunakan untuk berkumpul para penikmat tuak kini terlihat sepi. Salah satunya adalah yang ada di Jalan M. Yamin, Jalan Dr. Sutomo, seputar lampu merah patung Letda Sutjipto, kawasan terminal bus lama Tuban, Kelurahan Ronggomulyo,  Kecamatan Kota. Kini di sejumlah tempat itu sepi, karena pindah ke tempat yang jauh dari keramaian.  (edp)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *