SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Sebanyak dua sumur tua yang diyakini peninggalan nenek moyang ditemukan di Nglawatan yang tak jauh dari lokasi petilasan raja Malowopati, Angling Dharma, di Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur.
Lokasi ditemukannya sumur tersebut berjarak sekitar 150 meter dari sentra petilasan. Status tanahnya pun berupa tanah bengkok  perangkat desa setempat.
Informasi yang diperoleh menyebut, peristiwa itu diketahui pertama kali oleh driver alat berat yang telah melakukan aktifitas pengerukan lokasi untuk dijadikan embung penampungan air. Lokasinya juga tepat di jalan melingkar menuju lokasi petilasan raja besar yang hingga kini menjadi legenda abadi Kabupatren Bojonegoro.
Juru kunci petilasan Angling Dharma, Abdul Karim, mengatakan, awal ditemukan dua sumur tua itu saat dilakukan penggalian embung penampungan air dengan memakai alat berat (bego-Red).
“Secara tidak sengaja, sopir bego tiba-tiba menghentikan aktifitasnya mengeruk tanah. Karena, muncul sumber air, dan ketika dilihat sumur dengan bagunannya memakai bata merah kuno,” kata Abdul Karim kepada Suarabanyuurip.com, Senin (16/09/2013).
Kondisi ini, lanjut Mbah Karim, sontak membuat gempar warga sekitar datang ke lokasi untuk memastikan keberadaan dua sumur tua yang ditemukan tersebut.
“Dua sumur tua itu ditemukan di Nglawatan. Arti Nglawan itu sendiri sebutan lain dari Malowopati,” jelas Pria paruh baya yang berdomisili di Rukun Tetangga (RT) 21, Rukun Warga (RW) 06 Dukuh Tawing, Desa Wotanngare.Â
Ketua RT 21, RW, 06, Slamet, mengatakan, dua Sumur tua yang bentuk bangunannya dari bata kuno itu ditemukan, Jumat (06/09/2013). Saat pengerukan embung air sedalam sekira 2,5 meter.
“Sudah seminggu yang lalu dua sumur tua ini ditemukan, Mas,” imbuh Slamet menerangkan.
Warga lain, Yasminto, menambahkan, banyak warga yang datang untuk melihat dan mengambil air sumur tua untuk diminum dan dibuat membasuhi muka. Baik warga sekitar maupun warga dari luar daerah Bojonegoro. Yakni, dari Nganjuk, Tuban, Jawa-Timur dan dari Cepu, Blora, Jawa-Tengah.
“Warga yang datang mengambil airnya dibawa pulang, Mas. Mereka meyakini air sumur ini dapat dibuat untuk mengobati segala penyakit,” ungkap Yasminto menerangkan.(sam)