SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Terdengar jerit dan tawa muda mudi ketika kembang api dan petasan mulai meledak. Sembari sesekali menyalakan sumbu kembang api dengan korek api, beberapa diantaranya nekat mengambil foto dengan jarak yang sangat dekat untuk mengabadikan moment meletusnya peledak warna-warni itu.
Tak lama suasana semakin semarak, karena di beberapa sudut Alun-alun kota Tuban telah muncul kelompok muda mudi lain datang dengan mengendarai motor. Beberapa terlihat masih menggunakan baju muslim dengan peci khas gaya anak muda. Tak luput juga terlihat perempuan muda dengan kerudung aneka warna.
Tujuan mereka adalah sama, yaitu menyemarakkan alun-alun dengan suara petasan dan warna kerlip kembang api.
Â
Saat suasana semakin riuh, tepat di sebelah barat alun-alun, Masjid Agung Tuban telah dipadati jamaah yang ingin menghabiskan waktu beberapa jam untuk melaksanakan shalat Tarawih. Lebih-lebih jamaah membludak pada sepuluh hari menjelang akhir Ramadhan.
Ironis, saat takbir berkumandang secara serempak, para jamaah pun harus membagi pendengarannya mereka untuk mendengarkan bacaan tartil sang imam, bersamaan itu ledakan petasan menyalak di depan masjid. Ledakan demi ledakan pun kian marak, di awal malam Ramadhan.
“Saya kalau shalat Tarawih disini terganggu dengan ledakan petasan itu, Mas,†ungkap seorang jamaah menggerutu setelah shalat Tarawih.
Beberapa jamaah lain mengaku menyayangkan ulah para pemain petasan yang tepat berada di depan Masjid Agung Tuban itu.
“Mbok yo main petasan setelah Tarawih kan bisa,†harap Dwi (30), jamaah asal Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota Tuban.
Sedangkan untuk menegur mereka, jamaah merasa malas karena hal itu pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Namun, keesokan harinya beberapa kelompok lain datang dan bermain petasan disana.
Saat ditemui, kelompok muda mudi mengaku menyalakan petasan dan kembang api untuk membuat suasana kebersamaan lebih semarak. Mereka yang mengaku berasal dari salah satu SMA yang ada di Tuban, sebenarnya telah usai melakukan buka bersama dan belum berkeinginan untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Mumpung ngumpul, kita habiskan waktu bersama disini,†jawab salah seorang dari mereka.
Ditanya tentang biaya pembelian petasan ini, mereka menarik iuran dengan jumlah yang variatif. Bahkan ada yan rela menghabiskan uang jajan mereka untuk membeli petasan dengan harga yang bisa dikategorikan mahal itu.
“Tadi pakai uang jajan habis Rp 15.000 untuk iuran. Jadi besok nabung lagi,†ungkap Narto, salah satu pelajar yang ditemui di alun-alun Tuban.
Dikonfirmasi melalui ponselnya, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Tuban, Heri Muharwanto, mengatakan, setelah mendapat informasi ini akan segera mengerahkan anggotanya untuk melakukan pembinaan agar tidak bermain petasan saat shalat Tarawih sedang berlangsung.
“Mulai nanti malam akan kita bina agar bermainnya setelah shalat Tarawih,†tambah Heri. (tbu)