SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro- Sebanyak dua puluh pemuda yang menamakan dirinya Komunitas Pemuda Plosolanang, Desa Campurejo, Kecamatan Kota Bojonegoro, mendatangi kantor pemerintah desa setempat, Juma’t (10/8/2012). Mereka memprotes rekruitmen tenaga kerja (Naker) proyek pembangunan pabrik gas milik PT. Bangkit Bangun Sarana (BBS), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro oleh pemerintahan desa (Pemdes) yang dianggap tidak transparan.
“Kami disini menuntut tranparansi Pemdes yang menjadi jembatan langsung antara warga dengan PT BBS. Karena sejak awal kegiatan proyek tidak ada satupun dari pemuda setempat yang dipekerjakan,” jelas Alif, salah satu anggota Komunitas Pemuda Plosolanang usai melakukan rapat dengan desa.
Dia jelaskan, selama ini Pemdes tidak melakukan komunikasi dengan warga khususnya pemuda disekitar lokasi pembangunan pabrik pengolahan gas milik PT BBS di Dukuh Plosolanang.
“Mereka itu mengerjakan proyek dÃÂ tanah kami, tapi kenapa kok yang bekerja malah dari daerah lain. Padahal BBS pernah janji akan mengutamakan konten lokal,” ungkapnya Alif, jengkel.
Kehadiran sejumlah sekitar 20 pemuda tersebut diterima Kepala Desa Campurejo, Sekretaris Desa, perwakilan Polsek Kota, dan beberapa tokoh masyarakat, Jum’at (10/8/2012). Pertemuan yang berlangsung hingga menjelang sholat Jum’at tadi belum ada titik temu. Dalam pertemuan itu nyaris saja terjadi kericuhan karena mereka saling debat dengan salah satu tokoh masyarakat yakni Imam Sutikno.
“Bukannya tidak transparan, sebagian dari mereka kan sudah bekerja di JOB PPEJ. Jadi kami utamakan yang belum bekerja,” jelas Imam Sutikno.
Keadaan kembali memanas tatkala para pemuda tidak terima dengan pernyataan yang disampaikan Imam Sutikno. Pernyataan itu dianggap membual karena memang pemuda yang ada di Balai Desa tersebut belum ada yang bekerja.
“Kalau tuntutan kami tidak dipenuhi akan kami blokir jalan masuk ke Plosolanang,”tegas Alif lagi.
Sementara itu, penasehat Desa Damin menyatakan, aksi para pemuda itu bukan saja menuntut pekerjaan tapi ada 4 item lainnya. Diantaranya tuntutan kompensasi dari Join Operating Body Pertamina – PetroChina East Java (JOBP-PEJ), operator Migas Lapangan Sukowati, Blok Tuban yang belum tersalurkan, pembentukan karang taruna periode 2004-2014 yang belum terlaksana, tidak adanya transparansi pembentukan Tim Optimalisasi Kandungan Lokal tingkat Desa dan Komitmen Pemdes dengan JOB PPEJ.
“PT BBS dan IME masih koordinasi hingga saat ini,” terang pria 55 tahun ini.
Terpisah,Direktur Utama PT BBS Deddy Affidick belum memberikan konfirmasinya sampai berita ini diturunkan. (suko)