SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro- Pemerintah Desa (Pemdes) Campurejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro membentuk Tim Optimalisasi Kandungan Lokal. Tujuannya untuk bisa lebih mengawasi pelaksanaan Perda 23/2011 tentang konten lokal.
Keputusan pembentukan tim tersebut sesuai hasil musyawarah Pemdes Campurejo dengan masyarakat setempat, pada hari Senin (6/8/2012). Musyawarah memutuskan lima perwakilan desa sebagai tim inti. Mereka adalah Imam Sutikno dari unsur BUMDes, Ali Mansyur dari unsur BUMDes, Susilo Wandriyo dari unsur Perangkat Desa, Puji Lestari dari Perangkat Desa, dan Bambang Djunaedi dari unsur BPD. Keputusan tersebut telah dikirim ke Pemkab Bojonegoro pada,. Jumat (10/8/2012) lalu.
Imam Sutikno, sebagai Ketua Tim mengungkapkan, terbentuknya ini bukan karena tidak percaya dengan kinerja Tim Optimalisasi Kandungan Lokal milik Pemkab yang selama ini sudah ada. Akan tetapi agar dapat mengawasi lebih kompleks lagi di wilayah Desa Campurejo.
“Terbentuknya tim ini adalah inisiatif warga agar Pemdes lebih memaksimalkan potensi lokal, baik itu kontraktor maupun tenaga kerjanya,” jelas Imam saat ditemui di balai desa setempat.
Dia jelaskan, ada beberapa tujuan terbentuknya Tim Optimalisasi tingkat desa ini diantaranya sebagai pelaksana dari Tim Optimalisasi Pemkab untuk mengimplementasikan Perda No: 23 tahun 2011 tentang Konten Lokal. Sebagai fasilitator terkait perbedaan persepsi antara operator Migas dengan lokal Campurejo, mengendalikan stabilitas wilayah serta permasalahan sosial ekonomi yang potensial dapat menghambat kelancaran pelaksanaan eksplorasi dan eksploitasi.
“Paling utama adalah agar dapat memaksimalkan keterlibatan tenaga kerja dari Campurejo dalam Industri Migas dan memaksimalkan keberadaan dana CSR (Corporate Sosial Responbility),” terangnya.
Namun, di sisi lain keberadaan Tim Optimalisasi tingkat desa ini tidak disambut dengan baik oleh beberapa warga. Termasuk pemuda di wilayah Dusun Plosolanang.
“Kapan terbentuknya tim itu? Kok dari pemuda setempat tidak ada yang diajak rembug. Makanya kemarin mendatangi Lurah untuk meminta transparasi, tapi lurahnya tidak proaktif malah terkesan kalah dengan perangkat lain,” tukas pemuda Plosolanang yang enggan disebut namanya saat ditemui www.suarabanyuurip.com. (rien/tbu)