Nostalgia Pasar Tradisional di Lapak Pedagang Trotoar

trotoar

SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo

Tuban – Lebaran memang penuh berkah. Setidaknya itu terbukti dengan menjamurnya pedagang yang menggelar dagangannya di trotoar di ruas jalan dalam kota Tuban. Mereka mengais rejeki dengan berjualan hingga malam hari.  

Bahkan, aneka barang yang dijual pun memiliki daya pikat sendiri. Tak kalah dengan barang yang dipajang di etalase toko. Termasuk pula mencoba merangkai kembali nostalgia warga pada era masa lalu.  

Pemandangan itu terwakili pada, Sabtu (11/08/2012). Seorang wanita muda berkerudung merah membolak-balik tumpukan baju di lapak pedagang di atas trotoar di sudut Jalan Veteran-Tuban. Lengan panjang batik yang memadu kerudungnya, sesekali menari disapu angin.

Seolah tak ada hal lain yang dia pedulikan, tiba-tiba matanya berbinar melihat kaos T-Shirt ukuran dewasa. Kemudian langsung digenggamannya. Sudah bisa ditebak tawar menawar pun terjadi. Saat sampai pada kata sepakat, dua kaos mungil dan sebuah celana panjang telah berpindah ke dalam tas.

“Sudah dapat kaos untuk suami,” ujarnya sebelum meninggalkan stand baju tersebut.

Baca Juga :   Pelaku Seni Ledek Terpaksa Ngamen Demi Sesuap Nasi

Tak hanya perempuan itu, beberapa orang lain juga terlihat mendatangi tempat tersebut. Meski tak semuanya berakhir dengan membeli barang dagangan. Namun semuanya seolah terlihat penuh  antusias untuk berinteraksi dengan barang dagangan dan penjual yang ada disana.

“Dari pada di toko, penjualnya seperti tidak percaya dengan pembeli,” ujar Wiwik (25),  yang mengaku warga Semanding.

Wiwik beralasan dengan mencontohkan beberapa barang seperti tas dan jaket yang harus dititipkan kepada penjaga toko saat masuk untuk berbelanja. Berbeda dengan saat belanja di trotoar seolah terasa  ada hubungan kepercayaan yang lebih antara penjual dan pembeli.

Bagi Wiwik belanja di trotoar mengingatkan kondisi pasar tradisional  yang pernah dia baca dari buku. Sehingga saat ini ada yang mengatakan dengan pasar tumpah seperti yang masih bisa di temui di beberapa tempat.

Di samping alasan di atas, harga juga menjadi faktor utama dari banyaknya pembeli yang mendatangi pedagang lesehan yang ada di trotoar. Selain karena harga yang murah kualitas juga mereka anggap tidak kalah dengan produk keluaran toko.

Baca Juga :   Wisata Phutuk Kreweng Mojodelik Resmi Dilaunching

“Kalau saya ya tidak peduli gengsi,” kata pembeli lain, Anton (24).

Saat dikonfirmasi, salah satu pedagang yang ditemui menyatakan, tidak tahu menahu dengan beberapa alasan pembeli di atas. Baginya yang terpenting dia telah menyediakan barang dagangan berkualitas bagus, dengan harga yang bisa dibilang terjangkau.

“Saya mengambil barang dari Bandung,” terang Arif, pedagang yang berencana untuk membuka kios baju setelah Ramadhan.

Produk yang dia jual pun dengan harga yang bervariatif, untuk anak-anak satu stel baju atas bawah seharga Rp 55.000. Sedang untuk kaos bisa didapat dengan harga yang bervariatif pula, yaitu Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu.

Malam semakin larut, beberapa kendaraan masih terlihat lalu lalang di jalan yang menjadi jantung kota Tuban. Tapi beberapa pria maupun wanita seolah masih bernostalgia sembari mengkhayalkan kondisi pasar tradisional. Konon seperti yang dibaca di buku-buku, pasar selalu tumpah hingga hampir ke tengah jalan. (edp/tbu) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *