Bara Colok di Pintu Malam Ujung Ramadhan

colok

Tradisi leluhur memang harus diuri-uri. Terlebih disebaliknya tersirat makna religi.

BEDUK Maghrib tanda berbuka puasa sayup-sayup mulai terdengar dari surau tua di sudut Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Puasa sehari pun menjadi pungkas, setelah penanda berakhirnya ritual sarat religi itu bertalu.

Buka puasa dengan diiringi adzan di tengah keluarga sudah lazim terlihat di manapun. Akan tetapi tidak bagi warga Tasikmadu sore itu, ini dikarenakan pada malam ke–29 menjelang berakhirnya Ramadhan.  Warga selalu menyempatkan diri untuk menyalakan Colok.

Colok sendiri terbuat dari kayu kecil yang telah dililit dengan kain bekas dan dilumuri dengan minyak tanah. Biasanya akan dipasang di tiap-tiap pintu yang ada di rumah saat berbuka puasa menjelang.

Sedang arti kata Colok menurut bahasa Jawa artinya lentera yang menyala dengan sebentar. Sehingga mereka menyebut tradisi ini dengan sebutan nyumet colok, atau menyalakan lentera. Secara filosofis diartikan sebagai petunjuk dalam menjalani hidup yang sebentar ini.

Beberapa warga yang ditemui mengaku, memasang colok karena pada, Sabtu (17/8/2012) siang menurut perhitungan mereka adalah hari ke-29 Ramadhan kali ini.

Baca Juga :   Bupati Bojonegoro Koleksi Karya Perupa dari Ngasem

“Jadi sekarang malam ke 29,” ujar Jito (30), sembari memasang colok di depan pintu dapur rumahnya.

Saat ditanya kenapa pemasangan colok ini mereka lakukan saat malam ke-29 dari bulan Ramadhan, sebagian warga mengatakan, menurut cerita dari nenek moyang mereka pada malam itu para nabi dan wali yang pernah berjuang di bumi ini mendatangi dan memeriksa keadaan umat Islam satu persatu.

“Tentunya kami sangat menghormati dan ingin mengenang para nabi dan wali yang pernah berjuang di Islam,” terang Rasmo, warga sekitar.

Dalam memasang Colok ini, tidak ada satupun pintu di dalam rumah yang terlewati. Di samping itu warga juga memasangnya di tempat penyimpanan beras, tempat sampah, kamar mandi. Termasuk beberapa tempat lain yang mereka anggap menjadi bagian dari keseharian kehidupan mereka.

Ini disebabkan karena masyarakat mempercayai dengan memasang colok akan membawa kebaikan dalam rumah selama bulan Ramadhan yang telah mereka lalui. Mereka berharap kebaikan itu bisa berlanjut secara terus menerus di bulan setelah Ramadhan ini.

Baca Juga :   Nyadran di Blok Cepu Tak Tergerus Zaman

Selain itu, Colok dipasang sebagai  pengingat bahwa satu Ramadhan ini telah mereka lewati pada tahun ini. Kemudian berharap tahun depan masih bisa menyambut datangnya bulan suci ini.

“Berarti sekarang sudah satu tahun dari Ramadhan tahun lalu,” tambahnya.

Tradisi nyumet Colok ini telah mereka lakoni secara turun temurun ada sejak orang-orang sebelumnya. Mereka berharap anak cucu mereka kelak tidak akan melupakan tradisi yang penuh makna ini.

Selain itu bentuk Colok yang asli untuk saat ini sudah jarang sekali ditemui, dikarenakan kalau dulu masyarakat memasang colok dengan menancapkan kayunya ke tanah.

Namun sekarang harus mereka ganti dengan lilin, karena sebagian besar rumah berlantai plester atau keramik. Sehingga tidak mungkin Colok mereka tancapkan di tanah seperti dahulu. (edy purnomo)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *