SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Petani tembakau di wilayah Kabupaten Bojonegoro menjerit, setelah harga bahan baku rokok ini terjun bebas di pasaran. Pada musim petik tahun lalu harga tembakau masih berkisar Rp 38.000 hingga Rp 40.000/Kg, kini runtuh hingga titik harga Rp 18.000/Kg.
Murahnya harga di tingkat petani tersebut, menyebabkan petani di sejumlah senta tembakau Bojonegoro gulung tikar. Mereka tak bisa berbuat banyak begitu mengetahui harga tak sesuai dengan modal yang dikeluarkan semasa musim tanam.
Data yang dihimpun SuaraBanyuurip.com di lapangan menyebutkan, para petani tembakau di Bojonegoro saat ini sedang bernasib malang. Mereka tak bisa berbuat apa-apa begitu harga tembau tiba-tiba jatuh.
Hariyadi, warga desa Mediyunan, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jatim sangat mengeluhkan harga tembakau tahun ini. Karena, anjloknya sangat drastis dibandingkan tahun yang silam yang harganya sangat menjanjikan.
“Harga tembakau rajangan saat ini hanya berkisar Rp 12.000 hingga Rp 18.000 per kilo. Â Padahal, tahun 2011 silam harganya sudah mencapai Rp 40.000,” kata Hariyadi, Sabtu (25/8/2012).
Dia jelaskan, dengan harga tembakau yang semakin anjlok, membuat petani tembakau Bojonegoro banyak yang kelimpungan. Karena, tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan saat musim tanam tempo lalu.
“Hampir mayoritas petani tembakau Bojonegoro menjerit. Jangankan mengambil keuntungan, bisa kembali modal saja sudah senang,” keluhnya.
Senada juga dikeluhkan Budi Sukisna. Petani tembakau asal Desa Ngelampin, Kecamatan Ngambon ini mengungkapkan, melorotnya harga tembakau tahun 2012 ini telah membuat petani tembakau di Ngelampin panik.
Dia berharap, agar dinas terkait segera mengambil tindakan untuk harga tembakau di Bojonegoro bisanya distabilkan. Sehingga, penderitaan petani tembakau saat ini terkurangi.
“Saya yakin jika harga tembakau tidak segera diatasi pasti petani tembakau di Bojonegoro banyak yang menderita,” pungkasnya. (sam/tbu)