Memacu Andrenalin Putih Abu-abu di Atas Truck

nggandul truk

Melompat bak truck terbuka tanpa ijin saat pulang sekolah menjadi tradisi. Konon gengsi kelompok pun dipertaruhkan.

LONCENG tanda akhir pelajaran sekolah berdentang. Hendra (17), salah satu siswa SMK yang ada di Tuban mengemasi peralatan sekolah ke dalam tas. Sejumlah mata pelajaran yang dia anggap menjemukan hari ini begitu terlepas.

Tak menunggu lama setelah guru ke luar kelas, tanpa segan dia berlari ke gerbang sekolah. Mendadak langkahnya terhenti mencari kawan-kawannya.

Binar matanya mulai berubah, setelah melihat segerombolan siswa yang berpakaian putih abu-abu melintas tak jauh di depannya. Spontan dia berlari dan menyongsong kerumunan itu.

“Woi… tunggu, aku melu nggandul truck,” teriak Hendra.

Seperti biasa teman-teman yang dia jumpai dengan antusias menyambut dengan hangat kedatangannya. Bukan karena Hendra membawakan jajanan untuk dikonsumsi bersama, namun karena dengan kedatangan pelajar berambut cepak kelimis dengan sentuhan pomad itu, secara tak langsung menambah jumlah gerombolan mereka siang itu.

“Wah…baru ada 6 orang, mana mau truck berhenti kalau kita menumpang,” ujar salah satu siswa sambil menghitung jumlah karib yang ada di depannya.

Rupanya nasib baik masih berpihak pada mereka. Sembari berjalan menyusuri trotoar depan markas Polres Tuban, muncul kerumunan pelajar lain yang sudah menunggu di pinggiran lampu merah tak jauh dari tempat itu.

Seperti mendapat angin segar, tanpa ada yang mengomando mereka pun kompak untuk membaur menjadi satu. Sedikitnya 20 pelajar yang pada Jumat (14/9/2012) siang itu berkumpul di tepi jalan.

Seperti seorang militer yang tengah menyusun strategi perang. Mereka mulai membagi tugas bagaimana agar mereka masih bisa mendapatkan tumpangan truck yang lewat. Hal ini dikarenakan setelah ada beberapa kali larangan dari sekolah dan teguran dari Satlantas Polres Tuban. Biasanya para pengemudi truck merasa enggan untuk memberikan tumpangan kepada mereka.

Baca Juga :   Sumbang PAD Rp1,4 M Per Bulan

Tidak ada pilihan lain setelah menimbang berbagai alasan yang ada, siang ini mereka bersepakat nekad menaiki truck tanpa ijin dari pengemudi. Momentnya tepat karena tak sedikit truck berhenti disaat trafick light menyalakan lampu merah.

“Tidak mungkin truck menurunkan kami kalau sudah terlanjur naik,” kata Hendra dengan nada bercanda.

Aksi dimulai, seperti perhitungan mereka, truck dari arah timur yang mereka lihat berhenti tepat didepan mereka saat lampu merah menyala. Tak membuang kesempatan yang ada, meski truck belum sepenuhnya berhenti mereka langsung bergerak cepat dan melompat di atasnya dengan cekatan.

Seorang kernet truck yang menyadari tindakan pelajar tersebut sempat berteriak melarang kerumunan pelajar itu naik keatas bak truck yang setengah terbuka. Tapi apa daya saat akan memaksa mereka turun. Suara klakson dari belakang kendaraan besar mereka dan lampu hijau memaksa pengemudi untuk menjalankan kendaraan.

Seperti mendapat kemenangan, para pelajar yang sudah berada di atas truck melambaikan tangan kepada kawannya di pinggir jalan menunggu angkutan. Sesekali mereka berteriak mencibir saat melihat gerombolan lain yang belum mendapat tumpangan truck untuk pulang.

“Ya begini mas, kalau di tumpangi kita yang susah, karena Polisi kadang menegur kita,” teriak sopir truck dari atas kendaraannya, saat ditanya di perempatan patung Letda Sutjipto Tuban.

Aksi nekat puluhan pelajar tak sampai disitu, setelah mendapatkan tumpangan mereka harus berjuang untuk bisa turun dari truck saat tujuan sampai. Hendra dan beberapa kawannya dengan cekatan turun dari truck yang berjalan pelan di pertigaan Jalan RE Martadinata-Tuban. Truck yang ditumpangi langsung membelok ke kiri menuju arah Semarang.

“Setelah ini, kita baru akan naik bus untuk pulang, Mas,” kata Hendra yang diketahui berasal dari Lamongan, Jatim.

Sementara beberapa pengendara yang melintas sempat menyayangkan ulah pelajar tersebut. Dikhawatirkan ulah para pelajar itu akan membahayakan keselamatan mereka sendiri.

Baca Juga :   Jelang Mudik Lebaran 2024, KAI Daop 8 Surabaya Tambah 11 Kereta Api

“Kalau misal jatuh gimana, Mas? Kan kasihan orangtua mereka juga,” tandas Arti (28), salah satu pegawai koperasi di Tuban yang melintas di Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo – Tuban.

Sedangkan bagi Hendra dan kawan-kawannya, upaya nggandul truck bagai tradisi yang diwariskan kakak kelas mereka sebelum lulus dahulu. Sehingga mereka yang saat ini masih duduk di bangku sekolah, merasa mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan tradisi yang dianggap bagian dari reputasi antarsekolah ini.

“Sekolah-sekolah lain juga sering melakukan seperi kita, jadi seperti ada saingan,” kata seorang pelajar asal Rengel, Tuban.

Menurut mereka, moment menumpang truck ini bukan semata-mata untuk menghemat uang saku. Bagi sebagian pelajar, hal ini mempunyai keasyikan tersendiri saat harus mengumpulkan teman-teman dan bermain kucing-kucingan dengan guru atau petugas kepolisian. Meski mereka sadari akibat ulahnya bisa membahayakan keselamatan sendiri.

“Saya belum pernah tahu ada teman yang terjatuh karena ini,” jawab Hendra singkat.

Beberapa pedagang asongan yang dijumpai di daerah terminal bus lama Tuban mengaku,  pemandangan yang mereka lihat ini sudah bertahun-tahun terjadi. Bahkan diceritakan beberapa pelajar dahulu juga sempat menumpang bus secara beramai-ramai.

“Dahulu malah bus juga ditumpangi, tapi sekarang pintu bus banyak ditutup saat melewati gerombolan pelajar,” kata Anton (24), pedagang asongan.

Ulah para pelajar tersebut, menurut Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Tuban, Kompol Suhartono, sebagai bentuk tindakan yang sangat berbahaya. Berbahaya bagi pelajar sendiri, maupun membahayakan pengendara lain.

Untuk itu, dia tambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan  dan guru di sekolah masing-masing, untuk melakukan pengawasan setelah jam pulang sekolah.

“Kita akan berkoordinasi untuk melakukan pengawasan,” kata Suhartono. (edy purnomo)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *