SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Akibat pemblokiran jalan di akses road oleh warga Dusun sukorejo, Desa Bonorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (16/9/2012), Kontraktor yang terlibat dalam proyek pengurukan lahan proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 1 Banyuurip, Blok Cepu, rugi ratusan juta dalam sehari.
Sandoyo, Kepala Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem menyatakan, sangat mensayangkan aksi pemblokiran yang dilakukan warga Dusun Sukorejo, Desa Bonorejo dilokasi akses road. Meskipun aksi itu dilakukan ditanah kas desa (TKD), namun cara itu telah merugikan kontraktor lokal yang terlibat dalam proyek pengurukan.
“Seharusnya kalau mau aksi ada pemberitahuan lebih dulu kepada kontraktor. Agar mereka bisa berhenti sementara untuk tidak mengambil tanah urug. Kalau begini ya merugikan kontraktor,” kata Sandoyo menanggapi aksi pemblokiran, Minggu (16/9/2012) malam tadi.
Sebab, lanjut dia, banyak kontraktor lokal “Poul” sekitar Banyuurip – Jambaran yang terlibat dalam proyek pengurukan ini. Baik sebagai leader penyuplai maupun penyedia jasa armada tanah urug.
“Ini sama saja membunuh kontraktor disini,” tandasnya.
Senada juga disampaikan Direktur CV. Mitra Kinasih, Sukirno. Akibat pemblokiran ini, dirinya mengaku rugi Rp. 500 ribu setiap dalam sehari. Sebab armada pengangkut tanah urug sampai sekarang tidak bisa masuk lokasi pengurukan baik di Well Pad A dan B Desa Mojodelik maupun Pad C di Desa Gayam, Kecamatan Ngasem.
“Sehari satu truk bisa mengirim dua kali. Kalau dikakulasikan kerugian kita Rp. 500 ribu setiap truk,” sambung Sukirno.
Kemudian dia berhitung, jika yang terlibat di proyek pengurukan ini sebanyak 300 truk, kerugian akibat pemblokiran itu dalam sehari bisa mencapai Rp. 150 juta.
“Itu baru kerugian dari pengiriman tanah urug. Belum yang lainnya seperti alat-alat berat yang tidak beroperasi,” pungkas Sukirno.
Karena itu, Sukirno berharap, agar warga berfikir bijaksana agar proyek ini dapat berjalan dan tridak merugikan kontraktor. Karena semua dapat diselesaikan dengan cara musyawarah tanpa harus memblokir jalan dan menggangu proyek.
Bukan hanya kontraktor yang rugi, Mashuri, salah satu sopir dump truck pengangkut tanah urug proyek EPC-1 Banyuurip mengaku sama. Warga asal Desa Grabakan, Tuban Jatim, ini mengaku kehilangan pendapatan Rp. 1 juta kotor karena pemblokiran tersebut. Sebab, biasanya setiap hari dia dapat mengirim pedel dua kali.
“Ya jelas rugi mas. Selain tidak dapat pemasukan, kita juga capek menunggu dari jam 7.30 pagi tadi,” timpalnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, akibat aksi pemblokiran tersebut ratusan dump truk pengangkut tanah urug tidak dapat masuk lokasi pengurukan. Mereka tertahan dilokasi akses road karena ditengah jalan didirikan tenda oleh warga.(sam/suko)