SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Praktik penambang batu kumbung liar yang tersebar di berbagai pegunungan di Kabupaten Tuban, didominasi pengusaha pertambangan dari luar daerah. Sementara warga setempat hanya menjadi kuli pemecah batu untuk bahan dinding rumah tersebut.  Â
Menurut pantauan, meski penambang yang ada di lokasi merupakan warga lokal dari desa sekitar, namun mereka mengaku hanya sebagai pekerja saja. Sedang yang mempunyai lahan penambangan adalah pengusaha dari luar kota Tuban.
“Warga sini yang menambang, sedang juragane (pemilik lahan tambang-Red) berasal dari Gresik kalau tidak salah,” terang Towo (43), warga Dusun Gowah, Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jumat (21/9/2012).
Selanjutnya, warga mengaku para pengusaha luar Tuban awalnya membeli sebidang tanah kapur dari warga. Tapi begitu tanah sudah dibeli, pengusaha tersebut melakukan penambangan dengan memperkerjakan warga lokal.
“Mau mengambil kumbung terus dijual sendiri, juga tidak tahu mau dijual dimana,” tambah ayah dari dua putra tersebut.
Kondisi serupa juga ditemukan di beberapa daerah Kecamatan Merakurak, Tuban. Tidak seperti dulu, warga mengaku saat ini sudah jarang ditemui pengusaha batu kumbung dari warga lokal. Kalaupun ada, mereka hanya sebagai orang kepercayaan pengusaha lain, atau hanya sebagai pengepul saja.
“Kalau sekarang orang lebih senang menjual tanahnya saja,” ujar Samino (50), warga Dusun Koro, Desa Pongpongan, Kecamatan Merakurak, Tuban.
Sementara itu, seorang penambang liar dari Gresik saat ditemui di salah satu lokasi hanya diam dan tidak memberikan jawaban apapun. “Maaf ya, Mas?” ujar penambang itu saat ditanya tentang luas tambang yang dia miliki di Tuban. (edp/tbu)