SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Musim kemarau yang terjadi sejak Juli 2013 lalu, membuat petani Jamur Tiram di  Desa Klampok, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terancam gagal panen. Pasalnya cuaca panas yang terjadi saat ini sangat bertolak belakang dengan suhu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur.
Kharisudin (28), salah satu petani Jamur Tiram menyatakan, sejak  musim kemarau melanda disertai  cuaca yang sangat panas, membuatnya harus bekerja ekstra keras dan hati-hati dalam membudidayakan jamur ini.
“Ya saya harus bisa mengatasi dampak dari musim kemarau yang berkepanjangan terhadap hasil produksi Jamur Tiram,” kata Kharisudin kepada suarabanyuurip.com saat ditemui di lahan produksi Jamur Tiram miliknya, Jum’at (25/10/2013).
Dia menuturkan, cuaca panas yang terjadi saat ini dapat merusak tanaman dan menjadikan jamur mati. Sehingga berakibat hasil produksi atau panen jamur tiram menurun. Sebab, pertumbuhan jamur tiram putih ini memerlukan suhu dingin dan kecukupan akan air.
“Musim kemarau memang menjadi kesulitan tersendiri bagi petani atau pembudidaya jamur tiram lainnya,” ujarnya.
Kharisudin mengaku, saat musim kemarau saat ini produksi jamur tiram hanya menghasilkan 50 persen dari panen sebelumnya. Jika di musim hujan, dirinya bisa menghasilkan sedikitnya 30 kilogram (kg) jamur tiram putih setiap harinya. Namun di cuaca panas saat ini, hanya bisa memanen jamur tiram maksimal 15 kg dalam dua hari sekali.
“Panennya sekarang turun sampai separo dari biasanya,” tambahnya.
Selain produksi turun, ukuran jamur tiram juga lebih kecil dari biasanya. Terlebih lagi perawatan jamur tiram di cuaca panas ini juga membutuhkan biaya lebih. Sebab, setiap hari ia harus menyiram air ke lantai tempat berkembang biaknya jamur ini untuk menjaga suhu udara tetap lembab.
“Harga jual juga tidak sesuai dengan biaya produksi. Karena kami tidak mungkin menaikkan harga,” keluh Kharisudin.
Dari hasil prduksi, dirinya menjual jamur tiram di pasar lokal Bojonegoro dengan harga Rp 15ribu perkilo.(rin)