SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bojonegoro menyatakan, Â ada 7 jenis kebencanaan yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Diantaranya, banjir bandang, banjir sungai Bengawan Solo, tanah longsor, angin puting beliung, kebakaran, kekeringan, Â dan dampak industri.
“Terkait banjir sungai Bengawan Soolo dan banjir bandang, pada bulan Januari dan Februari 2011 sekarang ini sangat tinggi dari tahun lalu. Pada Januari-Maret 2012 terjadi 14 kali, dimana tahun lalu hanya 8 kali, mudah-mudahan tidak terjadi pada musim hujan berikutnya,” jelas Kepala BPBD, Kasianto, Sabtu (22/09/2012).
Sedangkan tanah longsor disisi selatan Bojonegoro yakni dari Kecamatan Kepohbaru-Kecamatan Tambakrejo, Kecamatan Kedewan- Kecamatan Kasiman sangat rentan sekali. Perlu diwaspai juga adanya puting beliung atau angin puyuh dimana pada bulan maret 2012 kemarin terjadi sebanyak 15 kali.
“Bahkan untuk ini merata baik diwilayah timur,barat dan selatan kota Bojonegoro,” ungkapnya.
Tidak itu saja, terkait kebakaran yang sering terjadi ini sebagian besar akibat kelalaian masyarakat atau human eror,terakhir kali di desa Jatiblimbing yang diakibatkan karena kurang waspada. Kepada masyarakat khususnya wilayah terdampak kekeringan, perlu sangat diwaspai kebakaran ini. Karena sulit mendapatkan air tentu saja BPBD akan kesulitan jika memadamkan api meskipun mengirimkan 3 unit PMK.
“Oleh karena itu,sangat diharapkan kewaspadaannya,” tukasnya.
Kebakaran ini trennya tinggi mulai bulan Mei 2012 yakni sebanyak 7 kali, Juni 9 kali, Juli 4 kali, Agustus 11 kali, dan September sebanyak 13 kali.  Maka dari itu dengan kesiapan masyarakat sangat terbantu karena tidak saja mengandalkan BPBD saja.
Sementara itu saat ini ada 17 Kecamatan yang tersebar pada 55 desa yang mengalami kekeringan. Dari waktu ke waktu kekeringan semakin meluas,dan upaya dari Pemkab juga mendistribusikan air bersih.
“Kami mohon maaf kepada masyarakat yang tidak belum mendapatkan giliran droping air bersih,karena keterbatasan kendaraan 3-4 hari baru sampai di lokasi kekeringan karena harus bergantian,” imbuhnya.
Terpisah, Pak Wiji (40), warga Desa Bulu, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro mengeluhkan keringnya sumber air disana. Baik sumur maupun sungai hampir sama sekali tidak mengeluarkan setetes air. Sambil menanti bantuan dropping air bersih dari Pemkab, dirinya dan masyarakat setempat terpaksa membeli air yang dijual oleh pedagang keliling.
“Disini ada yang jualan air tiap galon itu berisi 5 liter. Tiga galon dihargai Rp5.000 dan hanya cukup satu hari, itupun untuk kebutuhan makan dan minum, mandi ya biar anak istri saja, saya cukup siang hari mandinya,” kata pria yang berjualan penthol keliling itu. (rien/tbu)