Baru Awal 2026, MTsN 1 Bojonegoro Raih 24 Medali di Berbagai Ajang

MtsN 1 Bojonegoro
Kepala MtsN 1 Bojonegoro, Muhammad Saifuddin Yulianto (ke dua dari kiri) berfoto bersama Wakil Kepala MtsN 1, Amiri, Guru Bahasa Inggris Farida Noraini, dan para siswa peraih juara di awal tahun 2026.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro – Meski baru menapaki awal tahun 2026, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Bojonegoro telah menorehkan prestasi membanggakan. Sebanyak 24 medali berhasil diraih puluhan siswa dalam berbagai ajang kompetisi, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.

‎Pada tingkat nasional, prestasi gemilang diraih dalam ajang Kejurnas Floorball Surabaya League Champisonhip atau SLC CUP 2026 Road to Japan yang digelar di Surabaya, Jawa Timur.  Puluhan medali didominasi dari prestasi ini.

‎Di tingkat provinsi, prestasi membanggakan juga diraih oleh Wilfera Rey Deyanka Renata yang sukses menyabet Juara 1 kategori Seni Tunggal Remaja Putri dalam Kejuaraan Pencak Silat Malang Student Championship 2026 tingkat Provinsi Jawa Timur.

‎Sementara itu, pada tingkat kabupaten, Titis Ariyani Hakim berhasil meraih Juara 3 kategori Kelas Tunggal Tangan Kosong dalam ajang Kejuaraan Antar Pelajar Open Tournament Pencak Silat Perisai Diri se-GOD III Ponorogo tahun 2026.

‎MtsN 1 Bojonegoro terus menunjukkan eksistensinya sebagai madrasah unggulan dengan total 1.013 siswa dan 10 rombongan belajar (rombel) di setiap jenjang. Dengan jumlah peserta didik yang besar, madrasah ini tetap menjaga keseimbangan antara penguatan akademik dan pembinaan karakter keagamaan.

‎Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, M. Amiri, S.Pd., menegaskan, bahwa penguatan karakter religius berjalan beriringan dengan mutu akademik. Ia menyebut pelajaran umum tetap menjadi perhatian utama dalam proses pembelajaran.

Baca Juga :   Percepatan Pembangunan Jargas, PGN Dapat Dukungan Penuh Pemprov Jatim
Aufa Azam
Aufa Azam, peraih juara Story Telling Bahasa Inggris sedang memperagakan saat ia berkompetisi.(arifin jauhari)

‎Pelajaran umum tetap menjadi prioritas, tanpa meninggalkan ciri khas madrasah dalam pembentukan praktik keagamaan siswa. Salah satu program unggulan yang terus diperkuat adalah Gerakan Furudul Ainiyah (GFA). Program ini difokuskan pada peningkatan kompetensi praktik ibadah siswa agar berdampak nyata di tengah masyarakat.

‎Alumnus MTs tahun 2000 yang kini mengajar matematika itu menjelaskan, melalui GFA, siswa dibina untuk memperbaiki kualitas sholat, meningkatkan hafalan Al-Qur’an, memperkuat doa-doa harian, serta membiasakan amalan-amalan yang lazim dijalankan di masyarakat.

‎”Harapannya, lulusan MTsN 1 Bojonegoro tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam praktik keagamaan dan mampu menjadi teladan di lingkungannya,” kata Amiri kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (14/6/2026).

‎Di bidang bahasa asing, pembinaan dilakukan secara selektif. Guru Bahasa Inggris Farida Noraini yang telah mengajar selama 23 tahun menjelaskan bahwa siswa disaring dari peserta ekstrakurikuler Bahasa Inggris untuk melihat potensi masing-masing.

‎Setelah melalui tes, siswa diarahkan sesuai kemampuan, baik untuk olimpiade, story telling, maupun pidato Bahasa Inggris. Latihan dilakukan rutin seminggu sekali, dan hampir setiap tahun selalu ada siswa yang berhasil meraih juara.

‎”Salah satu yang berhasil juara dalam bidang Bahasa Inggris, yakni ananda Nizelda Emilia dalam kompetisi story telling dan pidato,” ungkap Farida.

‎MTsN 1 Bojonegoro juga menunjukkan komitmen pada pendidikan inklusif. Salah satu siswa berkebutuhan khusus yang tercatat adalah Aufa Azam Zaidan dari Desa Sukorejo. Kehadiran siswa berkebutuhan khusus menjadi bukti bahwa madrasah membuka ruang belajar yang ramah dan memberi kesempatan yang sama bagi semua.

‎”Dengan pendekatan berbeda, Aufa Azam juga berhasil juara dalam kompetesi story telling di Surabaya,” tegas Farida.

‎Kepala MTsN 1 Bojonegoro, Muhammad Saifudin Yulianto menambahkan, deretan penghargaan tersebut semakin menegaskan bahwa MTsN 1 Bojonegoro tidak hanya unggul dalam jumlah dan sistem pembinaan, tetapi juga konsisten mencetak generasi berprestasi dan berkarakter.

‎Terkait hal itu, ia menyampaikan harapannya agar seluruh warga madrasah, baik siswa, guru, maupun tenaga kependidikan, memegang prinsip “di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung,”.

‎”Dengan prinsip itu, akan mampu menjalankan tugas dan amanah dengan tulus dan penuh tanggung jawab,” tandas Saifuddin.(fin)

Pos terkait