SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Penambahan truck tanki air dari 11 armada menjadi 22 unit oleh PT. Tripatra Engineers & Constructors dinilai warga Bonorejo, Kecamatan Ngasem belum mampu meminimalisir polusi debu akibat proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 1 Banyuurip, Blok Cepu. Penambahan armada itu diperkirakan hanya mencukupi 20 persen dari total lahan yang tengah diurug.
Suwandi, Warga Dusun Sukorejo (Puduk) Desa Bonorejo mengungkapkan, penambahan armada air sebanyak 22 unit itu belum mampu meminimalisir polusi debu di lahan central processing fasility (CPF) seluas 300 hektar yang sekarang ini tengah diurug Tripatra. Sebab setiap setiap hari debu yang beterbangan akibat terpaan angin lebih besar 10 kali lipat dibanding dengan kendaraan pengangkut tanah urug yang melintas diakses road.
“Apalagi dilokasi (pengurukan) itu sering terjadi angin besar. Sehingga sudah dipastikan debu yang diakibatkan angin maupun kendaraan terbawa angin terbawa sampai radius 300 meter – 500 meter,” jelas Suwandi.
Suwandi mengkakulasi, jika armada yang dikerahkan hanya sebanyak 22 unit berkapasitas 5 ribu liter per tanki dengan jumlah penyiraman dua kali setara dengan 44 unit armada. Jumlah itu dia perkirakan hanya mampu mencakup 20 persen lokasi pengurukan.Â
“Jumlah armada itu belum sebanding dengan luasan yang ada,” tegas salah satu tokoh masyarakat Desa Bonorejo, ring 1 Lapangan Banyuurip ini.
Dia mengaku, mensayangkan sikap Tripatra maupun MCL yang baru akan melakukan penambahan truck tanki dan menambah intensitas penyiraman setelah warga sekitar proyek sudah lama merasakan polusi debu. Seharusnya, Karena luasan lahan dan pengiriman kalau dikakulasi hanya 44 rit.
“Mengapa setelah ada debu kok baru akan dilakukan penyimaran. Padahal warga sudah kenyang dengan debu. Seharusnya itu bisa diantisipasi sejak awal,” keluh Suwandi.
Kepala Desa Gayam, Kecamatan Ngasem, Pujiono meminta kepada Tripatra bukan hanya melakukan penyiraman di akses road, tapi well pad A dan B di Desa Mojodelik dan C di Desa Gayam.
“Karena dilokasi itu sering terjadi angin tornado kecil,” sambung pria yang juga Ketua Forum 15 Kepala Desa Seputaran Banyuurip ini.
Pada bagian lain, Community Affairs, PT. Tripatra Engineers & Constructors, Budi Karyawan mengaku, sejak awal tripatra terus menambah intensitas penyiraman hingga enam kali setiap hari setiap armada. Hanya saja, sejak ada pelarangan pengambilan air di sumur warga Dusun Ngaglik, Desa Katur, Kecamatan Kalitidu, intensitas berkurang.
Alasannya, lanjut Budi, pengambilan air di Bengawan Solo di wilayah Kecamatan Purwosari dan Desa Cengungklung, Kecamatan Kalitidu yang dilakukan sekarang ini terbentur jarak dan harus mengantri.
“Minggu ini ada 6 kendaraan yang sudah kita inspeksi dan lainnya masih dikaji karena ada bahan kimia. Senin besok 17 armada siap beroperasi dan hingga akhir bulan ini menjadi 22 armada,” sergah Budi.
Sementara itu, Field Public and Government Affairs Manager Mobil Cepu Limited (MCL), Rexy Mawardijaya mengakui jika penyiraman yang dilakukan selama ini masih kurang. Sesuai hasil pengecekan tim MCL dilapangan kondisi itu dipengaruhi musim, angin dan luasan lahan kurang.
“Karena itu dengan penambahan armada ini nanti akan kami evaluasi bersama BLH (Badan Lingkungan Hidup) Bojonegoro, jika masih kurang armada dan intensitas penyiraman akan ditambah,” janjinya. (sam/suko)