SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Bertepatan dengan momentum Hari Tani Se Indonesia, 30 aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bojonegoro melakukan unjuk rasa sebagai aspirasi mereka menyikapi problematika pertanian di Bojonegoro.
Puluhan massa itu melakukan aksi pertama kali di Bundaran Adipura Jalan Diponegoro, Desa Sumbang, Kecamatan Kota pukul 08.30 wib. Dalam aksinya mereka berorasi serta menyebarkan selebaran yang berisi tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten agar memperhatikan nasib petani.
Aksi ini cukup menyita perhatian pengguna jalan yang melintas ditempat itu. Sebab Bundaran Adipura merupakan lokasi strategis.
Ketua Umum PMII, Nanang Andrian dalam orasinya mengungkapkan, banyak sekali permainan tengkulak dan monopoli akses masuk Bulog yang semakin menambah derita petani Bojonegoro karena hanya menguntungkan beberapa pihak.
Bukan hanya itu, lanjut dia, petugas penyuluh pertanian seringkali hanya bertindak reaktif. Artinya, baru bertindak setelah ada laporan dan tidak ada langkah antisipasi sebelum terjadi serangan hama atau kekeringan.
“Pemerintah seharusnya dapat lebih aktif memberi penyuluhan tentang pola tanam dan antisipasi serangan hama tanaman,” imbuhnya.
Nanang menjelaskan, belum lagi masalah pengairan dan irigasi menjadi persoalaan pelik yang mendera petani. Karena keberadaan waduk pacal dan Bengawan Solo dinilai tidak mampu menggaransi kebutuhan air pertanian. Padahal, seharusnya, ada solusi yang dapat mengatur penggunaan air pertanian agar ketersediaan air dapat menjamin kebutuhan petani secara merata.
“Sementara, harga pupuk seringkali fluktuatif dan menanjak saat musim tanam. Hal ini membuat biaya produksi dan harga jual tidak seimbang. Â Jelas merugikan para petani!!!,” tegasnya.
Bahakn hasil produksi pertanian terus menurun karena lahan pertanian ikut tergerus dan beralih fungsi tanpa mempertimbangkan kebutuhan pangan kedepan.
“Mungkin terlihat kaya, tapi kita akan miskin dalam hal pangan. Untuk itu demi menjaga keberlangsungan hidup pemerintah harus memperjelas rencana tata ruang wilayah dan melindungi lahan pertanian yang masih tersisa dari upaya alih fungsilahan pertanian,” imbuhnya.
Terpisah, Akp ismawati, Kanit lantas Polsek Kota Bojonegoro menyampaikan, aksi yang dilakukan ini dijaga ketat pihak Kepolisian untuk mengantisipasi adanya kericuhan atau kemacetan di jalan raya.
“Ada 60 personil untuk mengamankan aksi ini,tetap diharapkan mereka melakukan dengan tenang dan menghindari kericuhan,” kata Polwan 35 tahun ini. (rin/suko)