Pesanggem memiliki cerita. Tentang penantian panjang luruhnya tetes air hujan.
Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika, Karsim (50), mengayunkan cangkul di ladang kering. Sesekali tangannya terlihat mengusap peluh yang menetes diantara kerut wajahnya yang kuyu. Tak lama berselang pesanggem (petani penggarap lahan) ini, berteduh di bawah pohon kayu putih.
Hampar pohon kayu putih itu begitu rapi terawat. Membentang diantara celah lahan kosong seukuran 0,5 hektar yang menjadi tanah garapannya. Â
“Ini lahannya Perhutani mas, bukan lahan saya sendiri,” ucap pria asal Dusun Mojokopek, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban kepada SuaraBanyuurip.com.
Lahan bekas hutan yang dibalak liar itu oleh Perhutani dimanfaatkan sebagai lahan tanaman kayu putih. Tak hanya Karsim dan keluarganya yang mengerjakan lahan itu. Banyak Karsim yang lain dengan jumlah tak sedikit berprofesi serupa. Di samping menggarap lahan, mereka juga membantu merawat tanaman kayu putih.
Karsim maupun ratusan pesanggem lain menggantungkan penghidupan mereka di lahan gersang tersebut. Kontur tanah yang kering dan gersang tak membuatnya menyerah. Apalagi harapan dia pada lahan kepunyaan sendiri tak mampu lagi bisa diharapkan.
“Kalau gak gini, keluarga mau makan apa?” tambahnya pelan dalam bahasa Jawa.
Menjadi pesanggem memang bukan cita-cita. Akan tetapi Karsim tidak berdaya. Sudah puluhan tahun lalu dia dengan dibantu istrinya, bergulat dengan bongkahan tanah yang keras. Dengan harapan dari tanah gersang itu mampu tumbuh bulir-bulir kehidupan yang mampu menafkahi keluarganya.
Kendati begitu dia masih memiliki harapan, daripada sama sekali tak berbuat apa-apa. Meski tempaan musim tak selalu berpihak pada tanah gersang yang dia garap, namun bapak dua putra ini ini merasa adrenalinnya terpacu karena tanggung jawab yang besar kepada keluarganya.
Menurut hitungan, pekerjaan mereka tak pernah mengenal untung. Ini disebabkan karena selama mengerjakan lahan ini sering kali mereka gagal dalam memanen hasil.
“Jangankan untung, modal saja sering tak kembali,” sela Sawi (45), istrinya, yang kala itu hadir membawa bekal makan siang untuk suaminya.
Keadaan terparah melanda pesanggem saat musim kemarau. Kondisi tanah tadah hujan tak memungkinkan mereka untuk menggarap lahan, yang ada hanyalah bagaimana mereka bersabar dan berupaya mencangkul tanah agar bisa gembur dan memperoleh hasil maksimal saat musim tanam.
“Kalau gak diolah mulai sekarang, saat musim tanam tidak akan ada hasilnya,” tambah Karsim.
Meski begitu, dia tidak mengelak keadaan. Karena bagaimanapun ini adalah wujud tanggung jawabnya kepada Perhutani KPH Tuban yang telah mengijinkan dia bercocok tanam.
“Kami bertanggung jawab atas tanaman kayu putih ini,” ungkapnya.
Sembari menjalankan tugasnya merawat dan menjaga tanaman kayu putih milik perhutani. Karsim dan istrinya menanami dengan tanaman kacang tanah maupun jagung. Tapi karena kondisi tanah yang tidak subur. Seringkali benih yang mereka tebar tidak mampu mengisi lumbung mereka.
“Panen sedikit saja sudah bersyukur,” ucapnya.
Sementara itu, Karsim mengeluhkan tentang perhatian pemerintah yang kurang kepada pesanggem seperti dirinya. Selama ini keberadaan pesanggem tidak pernah tersentuh bantuan dari pihak yang berwenang.
“Kita mengharap pupuk bisa sampai disini, Mas,” harap Karsim dan istrinya.
Surya menyengatkan teriknya, saat Karsim berpamitan untuk mulai mencangkul kembali di lahan gersang tersebut. Tangannya seolah tanpa lelah mengayunkan cangkul. Hiruk pikuk dan orasi peringatan hari tani se indonesia bahkan sama sekali tak pernah terdengar ditelinganya. (edy purnomo)
