SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Tuban- Perangkat Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menilai aksi demontrasi warga Rahyu di Central Procesing Area (CPA) lapangan minyak Mudi di desa setempat, Kamis (11/10/2012), karena pihak Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) mengingkari kesepakan dengan warga.
Sekretaris Desa Rahayu, Dasim, menuturkan, aksi tersebut sengaja disiapkan karena JOB P-PEJ belum melaksanakan beberapa kesepakatan pasca terjadinya demo pada tahun 2009.
“Aksi kemarin sebagai tindak lanjut kesepakatan yang dulu. Dimana disebutkan Petrochina akan merealisasikan selambat-lambatnya enam bulan setelah kesepakatan dibuat,” papar Dasim kepada SuaraBanyuurip.com, Jum’at (11/10/2012).
Adapun kesepakatan tersebut, kata dia, seperti persoalan lingkungan, tenaga kerja, bau gas, suara bising, dan pembangunan infrastruktur. “Bisa dirasakan sendiri dampak panas gas H2 di lapangan itu,” imbuhnya.
Seperti diketahui, puluhan pemuda Desa Rahayu Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jatim, mendatangi kantor JOB P-PEJ, operator migas Lapangan Sukowati -Mudi, Blok Tuban, menolak rencana pemboran sumur migas baru di desanya.
Sedangkan manajemen JOB P-PEJ menampik tudingan Dasim tersebut. “Kami menyimpulkan ada faktor internal dari di Desa Rahayu,” sanggah Field Admin Superintendant JOB P-PEJ, Hananto Aji.
Dia mengaku, tidak tahu menahu soal kesepakatan sebagaimana yang diungkapkan Sekdes Rahayu. Hananto menegaskan, aksi tersebut tetap dipicu karena ada ketidakharmonisan antar kelompok di Desa Rahayu.
“Ada tiga kelompok yang terpecah. Yaitu Kades saat ini, pesaing kades yang kalah, dan dari pendemo, sehingga seolah kita jadi korban imbas politik desa itu,” ucapnya. (roz/tbu)