SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – 1000 penderita cacat baik cacat lahir maupun cacat karena amputasi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memperoleh bantuan kaki palsu, Jum;at (19/10/2012). Pemberian bantuan kaki palsu ini merupakan serangkaian kegiatan sosial dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro (HJB) yang ke 335 yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro bekerjasama dengan Kick Andy Foundation.
“Kami menyiapkan 1000 kaki palsu untuk masyarakat Bojonegoro agar mereka bisa melangsungkan hidup sehari-hari. Sehingga yang biasanya meggunakan tongkat bisa berjalan dengan normal lagi,†kata Ketua Harian Kick Andy Foundation, Ali Sadikin disela-sela acara.
Dia mengungkapkan, dalam sehari sudah ada 40 orang yang mendaftar dan telah diukur untuk pembuatan kaki palsu. Kaki palsu ini berbahan halus dan ditujukan kepada masyarakat yang secara cacat tidak memiliki kaki bawah karena kecelakaan maupun cacat lahir.
“Kami melayani semua jenis kaki palsu dan ukuran yang dibuat akan disesuaikan panjang pendeknya. Karena terkadang, mereka memakai kaki palsu yang tidak disesuaikan ukuran namun harganya sangat mahal. Tentu saja itu akan membuat kaki tidak nyaman,†paparnya.
Ditambahkan, selain kaki palsu pihaknya juga membantu mereka yang cacat pada tangan. Namun untuk tangan palsu lebih kepada aksesories saja. Karena secara tekhnis tangan palsu yang dipasang pada bagian jari-jemari tidak dapat digerakkan.
“Sebenarnya untuk tangan palsu terbatas,tapi kami tetap berusaha membuatnya,â€pungkasnya.
Dikatakan, untuk kaki palsu ini jika dijual bebas harganya sekitar Rp 2.000.000 sampai Rp 2.500.000. Sedangkan untuk tangan palsu Rp. 1.500.000. Namun, seharusnya jika ingin membeli tangan atau kaki palsu disesuaikan dengan ukuran kaki bukan nilai rupiahnya.
“Kaki palsu yang kami buat ini bisa digunakan untuk lari,â€imbuhnya.
Terpisah, Nur (15), warga asal Kecamatan Kedungadem sangat berterimakasih dengan Pemkab Bojonegoro yang mengadakan program kaki palsu gratis ini. Dia berharap,dengan kaki palsu yang didapatnya kelak bisa menjalankan kehidupan dengan normal seperti saudaranya yang lain.
“Bapak saya hanya petani, kaki saya harus diamputasi karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Semoga dengan kaki palsu nanti saya bisa berjalan dengan normal dan membantu orang tua,†kata Perempuan belia yang putus sekolah saat kelas 1 SMP ini sambil menahan air mata. (rin/suko)