SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban -Â Aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tuban, Jawa Timur, meminta umat muslim setempat tidak mudah terpengaruh dengan politik ekonomi Myanmar yang berujung pada pembantaian etnis rohingnya. Di balik insiden yang menewaskan warga sipil pada akhir Agustus 2017 kemarin, ada perebutan Sumber Daya Alam (SDA) Migas yang melimpah oleh 18 kelompok.
“Mari kita doakan semoga semua warga sipil di Myammar selamat dan bagi yang meninggal diberi ketanangan,†ujar Koordinator Lapangan (Korlap), Andik Nurrohmat, kepada suarabanyuurip.com, saat menggelar aksi di Bundaran Patung Letda Soecipto Tuban, Selasa (5/9/2017).
Andik meminta soal perebutan SDA Migas jangan dikaitkan dengan isu SARA. Hal ini sangat riskan, karena banyak umat beragama yang menjadi sasaran kebrutalan militer Myanmar.
Bersama sembilan mahasiswa lainnya, Andik juga mendukung pemerintah pusat berperan aktif dalam penyelesaian konflik Rohingnya. Kejahatan di Myanmar yang berbungkus agama merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Pihaknya mendesak kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tidak tinggal diam melihat kondisi tersebut. Pemerintah Myanmar harus diberi sanksi karena sudah menimbulkam teror bagi warganya dan dunia.
“Kami juga mengecam aksi biksu Ashin Wirathu yang bertindak provokatif,†tegasnya.
Kondisi ini perlu disikapi bersama melalui penggalangan doa bersama umat muslim Nusantara. Sekaligus melakukan sholat ghaib untuk saudara muslim rohingnya.
Untuk di Tuban sendiri, umat muslim juga harus menjaga kerukunan umat beragama. Selama ini di Tuban sudah lama damai dengan hidup berdampingan antara pemeluk agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, dan Konghucu.
Aksi solidaritas muslim rohingnya kali ini berawal dari kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Rangga Jaya Anoraga kemudian massa long march menuju Patung Letda Soecipto. Selama aksi, petugas kepolisian langsung mengawalnya dan menjaga arus lalu lintas tetap berjalan normal. (aim)