Jerit Tangis Ditengah Mencari Berkah Sunan Bonang

sunatan massal

SuaraBanyuurip.com - 

Bagi masyarakat Tuban dan sekitarnya mengkhitankan anaknya di Haul Sunang Bonang merupakan bentuk pencarian berkah. Mereka berharap anak-anaknya kelak mewarisi sifat Sang Wali yang bijak dan arif.

Tuban – Sejak pagi sekira pukul 08.00 WIB, halaman Masjid Astana di Kompleks Sunan Bonang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dipadati puluhan anak-anak berbaju muslim warna putih. Mereka duduk dikursi plastik dibawah tenda yang disiapkan panita.

Wajah para bocah itu tak tampak sumringah. Ada guratan ketakutan. Ketakutan membayangkan rasanya dikhitan (sunat). Bayangan tajamnya pisau sang mantri pun sempat menyurutkan niat mereka untuk mengikuti sunatan massal.   

Buktinya, terlihat beberapa bocah sempat bermaksud lari dari tempat duduknya setelah mendengar jerit tangis sejumlah bocah yang mengerang kesakitan yang disunat lebih dulu. Namun, dengan cekatan sang ayah yang duduk didekat bocah itu langsung menangkap lengannya. Nada bujuk rayuan pun keluar dari mulut sang Ayah ditelinga anaknya.

“Ayo nak, tidak sakit kok. Cuman sebentar saja. Semoga setelah dikhitan dapat meniru keteladanan Mbah Bonang,” ujar sang ayah sambil mendudukkan anaknya dipangkuan.

Sekilas sang anak tampak ragu. Tapi keraguan sang anak langsung dimanfaatkan sang calak-sebutan lain mantri sunat- untuk melaukan eksekusi. Secepat kilat pisau calak bergerak memotong sebagian kelamin anak itu.

Baca Juga :   Mahalnya Biaya, Ali Mukti Pilih Putus Sekolah

Sontak bocah itu meringis kesakitan. Ia merasakan sesuatu yang perih dibagian kelaminnya. Sang anak pun menjerit dan tak mampu menahan tangis. Para orang tua kemudian kembali membujuk anak-anak mereka untuk meredakan tangisnya.

Bagi sebagian orang tua, khitanan massal yang dilakukan di halaman masjid Astana ini tak lebih dari pengharapan sebuah berkah. Keyakinan mereka, dengan dikhitannya anak ditempat ini, sang anak bisa terbantu untuk meniru sifat Sunan Bonang yang dikenal kearifannya dalam menyebarkan agama Islam.

“Semoga setelah dikhitan, anak saya bisa arif meniru Sunan Bonang,” aku Nurlaela (39), salah satu orang tua.

Konon, semasa hidup wali yang jenazahnya pernah diperebutkan beberapa santri dari Madura dan Lasem ini mempunyai sifat arif dalam menyikapi segala persoalan. Tak hanya itu, Sunan Bonang juga dikenal dengan cara dakwah yang terkesan luwes dan menyesuaikan kultur jawa pada saat itu. Sehingga dengan kesenian yang dia bawa untuk berdakwah, Sunan Bonang menjadi komponis musik yang handal dimasanya. 

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Panitia Haul Sunan Bonang, Riyadh Sauri menyatakan, sunatan masal ini diikuti 58 anak. Tak hanya dari Tuban, peserta khitan juga datang dari kota Lamongan, Bojonegoro, Blora dan Tegal. Bahkan diketahui khitanan massal ini juga diikuti oleh salah seorang yang baru masuk Islam (Muallaf) beberapa bulan lalu.

Baca Juga :   Larung Sesaji Memohon Berkah Penguasa Laut

“Ada yang muallaf, dan baru masuk islam 6 bulan lalu,” terang Gus Ayak, sapaan akrabnya.

Secara umum, mitos peserta yang mengikuti khitanan massal ini berasal dari keluarga kurang mampu sudah terbantahkan. Terbukti dengan banyaknya anak pengusaha yang ikut serta dalam sunatan missal tersebut. Mereka juga berharap berkah dari Sunan Bonang.

“Banyak anak orang kaya yang ikut. Ini membuktikan jika peminat khitanan massal sekarang ini tidak hanya berasal dari keluarga kurang mampu,” tambahnya.

Untuk diketahui, Khitanan Massal ini adalah salah satu rangkaian dari peringatan Haul Sunan Bonang Tuban. Awalnya, khitanan massal ini digelar untuk membantu keluarga miskin yang tidak mampu megkhitankan anaknya. Tapi saat ini, banyak beberapa anak dari keluarga yang ekonominya mapan turut serta dalam acara tahunan ini. (edy purnomo)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *