SuaraBanyuurip.com -Â
Meski program pengentasan buta aksara dan anak putus sekolah telah digalakkan oleh pemerintah. Namun dalam kenyataannya belum bisa menyentuh dikalangan masyarakat secara maksimal. Buktinya sampai saat ini masih dijumpai anak putus sekolah yang dirasakan sebagian masyarakat kecil di wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Faktornya adalah mahalnya biaya pendidikan tingkat dasar, dan pertama menjadi momok bagi masyarakat miskin tidak bisa melanjutkan pendidikan anaknya kejenjang pendidikan berikutnya.
Pengentasan buta aksara dan mendorong agar tidak ada anak putus sekolah terhadap masyarakat merupakan program yang selalu digembar-gemborkan oleh pemerintah. Dengan melalui berbagai upaya dilakukannya. Baik dengan menggelontorkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan lain sebagainya.
Semua itu seperti hanya isapan jempol belaka. Sebab masih ditemukan anak yang tak dapat melanjutkan kejenjang pendidikan berikutnya atau putus sekolah. Penyebabnya adalah kondisi perekonomian orang tua yang sulit dan pas-pasan atau keluarga miskin. Sehingga tak bisa memenuhi biaya pendidikan yang masih tergolong mahal.
Hal ini dialami oleh Imam Ali Mukti, warga Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Blora, Jawa Tengah. Anak yang baru beranjak remaja pasangan dari Sulatin dan Sukarni ini terpaksa harus berhenti sekolah, dan memilih untuk bekerja membantu orang tuanya menambang sumur tua di Desa Plantungan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora. Karena orang tuannya tak mampu untuk membiayainya.
Ali Mukti, yang baru berusia 14 tahun ini merupakan siswa disalah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kecamatan Jepon. Seharusnya mendapat perhatian agar bisa melanjutkan penimbaan ilmu pendidikan bersama teman sebayanya. Justru malah sebaliknya, Ali harus sibuk berjibaku dengan keringat dan menantang teriknya matahari untuk bekerja sebagai penambang sumur minyak tua. Demi membantu orangtua untuk mencukupi kebutuhan hidup setiap harinya.
Dengan tidak mengenakan baju, dan sambil memikul sebatang pipa minyak ia menceritakan kondisi kehidupan yang dialaminya. Bahwa ia tidak pernah berhenti bekerja selama satu minggu penuh. Setiap hari, berangkat dari rumah sekitar pukul 07.30 WIB dan pulang pukul 16.00 WIB untuk bergelut dengan muntahan lantung (minyak mentah) dari sumur tua agar bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarganya.
“Mending saya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah, ketimbang harus membebani orangtua. Aktivitas yang saya alami ini istirahatnya kalau saat membantu Ibu bercocok tanam, Pak,†katanya di sela-sela kesibukannya membantu Bapaknya, Sulatin, di salah satu penambangan sumur tua di Desa Plantungan Kecamatan Blora.
Karena saat ini tanahnya masih gersang belum bisa diolah untuk ditanami, ia memilih membantu Bapaknya yang tidak pernah pulang dari penambangan. Karena setiap hari harus mengambil minyak mentah dari sumur tua yang menjadi sumber ekonominya selama ini.
“Kalau Bapak tiap malam di sini, soalnya masih kerja,†jelasnya.
Uang hasil keringatnya itu, Ali mengaku, sebagian ditabung dan sebagiannya lagi diberikan kepada orang tua untuk kebutuhan sehari-hari. “Kadang saya berikan ke pada Ibu,†ucapnya malu-malu di lokasi penambangan.
Sembari mengusap keringat yang mengucur diseluruh tubuhnya, ia mengaku, sejak membantu orang tuanya menambang sudah lima kali mendapatkan upah total sebesar Rp 500 ribu. Itupun kalau minyaknya sudah laku, kalau belum juga tidak mendapatkan dibayaran.
“Kalau minyak sudah laku saya di bayar Rp 100 ribu, dan Bapak saya Rp 150 ribu,†jelasnya.
Terhitung tiga bulan lamanya, dirinya memutuskan untuk berhenti dari sekolah dan memilih membantu orantuannya. Karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya sekolah faktor dari keterbatasan biaya.
Saat ditanya, selain dirinya apakah ada siswa lain yang juga putus sekolah. Dia mengaku, satu almamater dengannya masih ada yang memutuskan untuk berhenti sekolah. “Kalau tidak salah empat teman yang memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Tapi kasusunya berbeda-beda. Ada yang karena minum-minuman keras terus dikeluarkan,†kata dia.
Ali mengaku, sebanyak empat guru perempuan pernah datang kerumahnya untuk membujuk agar kembali bersekolah. “Tapi saya tidak mau karena kondisi ekonomi tidak kuat untuk membayar biaya sekolah,†akunya.
Sementara, Sulatin, menyatakan, terpaksa anaknya harus putus sekolah karena tidak kuat membayar biaya sekolah. Dia menilai lebih baik membantu bekerja dari pada terbebani untuk sekolah. Disekolah, Ali ditarik uang untuk membeli buku sebesar Rp 50 ribu, selain itu tiap kali akan ulangan juga ditarik iuran sebesar Rp 190 ribu.
“Mau ulangan harus bayar, tidak bayar tidak boleh ikut ulangan, kasihan saya pada Ali, malu dengan teman-temannya. Soalnya bayarnya banyak,†tuturnya.
“Bapak tidak kuat bayar sekolah, ya mau gimana lagi,†kata Ali menutup perbincangan. (Ahmad Sampurno)