SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Budidaya burung puyuh di Desa Datinawong, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kembali menggeliat. Serangan flu burung pada 2006 silam tak membuat peternak di desa ini kapok.
Menggeliatnya budidaya burung puyuh ini tak lepas dari peran Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Lamongan yang memberikan bantuan berupa 3500 ekor burung puyuh dewasa siap telur lengkap dengan pakan kepada kelompok peternak yang ada di desa tersebut.Â
Disamping itu ditopang semangat para peternak yang ingin bangkit kembali setelah dihantam wabah flu burung pada 2006 silam. Mereka ingin Datinawong menjadi desa penghasil telur puyuh terbesar di Lamongan.
Mudhofar, salah satu anggota Kelompok Bangkit Bersama mengungkapkan, Â dirinya mulai budidaya burung puyuh lagi sejak 2011 lalu bersama beberapa warga membentuk kelompok. Â Budidaya ia lakukan disatu tempat yang pengelolaanya dilakukan bersama-sama dengan pembagian tugas setiap anggotanya.
“Anggotanya berjumlah 10 orang. Mereka memiliki tugas beda-beda. Ada yang memberi pakan, membersihkan kandang, hingga memanen,†kata Mundhofar ditemui disela-sela aktivitasnya mengelola burung puyuh.
Selama satu tahun berjalan, Mundhofar mengaku, usaha budidaya kelompok yang diketuai Warji ini telah menampakkan hasil menggembirakan. Produksi telur rata-rata perharinya mencapai 70 %.
“Ini tak lepas dari peran Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan yang secara kontinyu terus memantau perkembangan tenak burung puyuh ini. Jangan sampai kecolongan lagi dengan serangan flu burung,†tuturnya.
Mundhofar berharap, dengan keberhasilan yang telah ditunjukkan Kelompok Bangkit Bersama ini, program itu dapat digulirkan kepada warga lainnya agar usaha budidaya burung puyuh di Desa Datinawong bisa kembali bangkit.
“Harapan saya desa ini kembali menjadi sentra penghasil telur puyuh terbesar di Lamongan seperti dulu lagi,†pungkasnya.
Ditemui terpisah, Kepala Desa Datinawong, Mundhakir mengungkapkan, akibat serangan wabah flu burung yang terjadi enam tahun silam itu banyak peternak di Desa Datinawong yang jatuh merugi dan gulung tikar. Dampaknya, geliat ekonomi masyarakat yang menggantungan hidup dari budidaya buruh puyuh pun surut.Â
“Bahkan nama desa Datinawong sebagai penghasil telur puyuh terbesar di Kabupaten Lamongan mulai dilupakan,†kenangnya.
Sebab, kata dia, sebelum wabah flu burung menyerang, sebagian besar  masyarakat Desa Datinawong menggantungkan hidup dari budidaya burung puyuh. Selain mengambil hasil telur, para peternak juga mendapat keuntungan dari menjual burung yang sudah tidak produkfif lagi (afkiran). Usaha budidaya unggas ini juga memberikan penghidupan bagi puluhan warga lainnya yang menjual telur burung puyuh dengan cara mengasong di terminal Babat, Lamongan, Tuban, Bojonegoro dan kota-kota besar lainnya.
“Dulu dari budidaya burung puyuh ini, perekonomian masyarakat desa sini mapan,†sergah mantan sopir angkot (angkotan umum) ini.
Namun sejak mewabahnya flu burung, lanjut Mudhakir, satu persatu peternak berhenti hingga akhirnya usaha itu berhenti total. Mereka yang sebelumya menggantungkan hidup dari burung puyuh, terpaksa bekerja seadanya. Menjadi buruh tani, pekerja kasar. Para pengasong telur puyuh terpaksa mengasong barang lainnya.
Fenomena itu membuat hati Mudhakir miris. Sebagai kepala desa (Kades), dirinya mengaku prihatin dengan ‘jatuhnya’ perekonomian warga pasca berhentinya budidaya ternak burung Puyuh. Apalagi, dia sadar, para peternak tidak mungkin bisa membangun usahanya kembali karena keterbatasan modal yang dimiliki.
“Karena itu, setiap celah coba saya masuki untuk dapat kembali mengangkat ikon desa ini. Tak terkecuali rajin mengajukan proposal ke Pemkab Lamongan,†ungkap pria berusia 43 tahun ini. “Alhamdullillah, tahun 2011 lalu, Dinsosnakertrans merespon harapan saya. Mereka memberikan bantuan dan bimbingan langsung kepada para peternak burung puyuh,†lanjut Mudhakir mengakhiri perbincangan dengan dengan SuaraBanyuurip. (tok)