Menggugah kultur lokal menjadi pilihan pelaku teater modern. Teater Semak, Tuban, mengkolaburasi seni tradisi Sandur disaat kisah silam tercampak. Â
SORAK sorai bocah dalam irama terarah membangkitkan suasana di pedesaan. Akapela yang mereka mainkan mengalir meningkahi sayatan seruling di malam. Lembut tepukan kendang sabet kian melahirkan harmoni.
Angin malam pun hadir mengayun lembut Rontek di atas batang pohon jambe. Bagai mengikuti ritme tepuk tangan Panjak Hore, sejumlah bocah melantun tembang dolanan. Malam bulan purnama pun menjadi hangat kala 144 bidadari merasuk jiwa para bocah.
“Ayo kita bermain, mumpung malam sedang terang karena Padhang Mbulan,†teriak seorang bocah penuh suka cita dalam perhelatan teater dari Teater Semak, dari SMK PGRI2 Tuban saat melakonkan Padang Mbulan dalam pematangan pentas tadi malam.
Mereka mengelilingi Jambean, miniatur pohon Pinang, yang di pagar temali yang diikat di empat sudut mata angin. Sentra helat seni tradisi sarat religi ini, bagai simbul perhelatan teater modern yang mengadopsi seni tradisi, Sandur.
Kolaburasi apik yang dibesut sutradara, M Taufik, ini menawarkan kebangkitan kultur lokal dalam Sandur, seni tradisi khas daerah Tuban. Seni sarat pesan moral, sekalipun dimainkan bocah desa, ini dulu acap dimainkan sambil menunggu panen padi tiba.
“Kita memang mencoba adopsi proses teater kali ini dari seni tradisi yang ada di Tuban, yaitu seni Sandur,†tutur penata artistik Teater Semak, Arif Ponco Atmojo.
Meski adopsi dilakukan namun tak mengusung semua piranti pertunjukan seni rakyat, Sandur, namun sebagai pentas seni modern telah berhasil mengkolaburasikannya. Paling tidak keinginan untuk memasukkan ruh seni tradisi dalam ranah teater boleh dikata berhasil.
Selain ronce temali yang mengikat tempat perhelatan, teater pelajar ini menggunakan properti pohon pinang untuk menancapkan Rontek. Bendera berwarna warni di atas Pinang itu sebagai simbul dari sarana masuknya ruh Dewi Sri, dewi kesuburan untuk lahan persawahan petani desa, ke dalam ruh pelaku Sandur. Mulai dari empat pemain kunci maupun para Panjak Hore dan penonton yang melingkar di sentra pertunjukan. Â
Oleh Teater Semak, pohon Pinang digunakan sebagai pengganti tempat Kalongking. Kalongking  dalam permainan sandur adalah tempat atraksi para pemain berupa dua buah bambu yang ditancapkan dengan tinggi mencapai 15 meter lebih, dan kedua bambu tersebut dihubungkan dengan seutas tali.  Biasanya, saat pentas para pemain sandur akan beratraksi dengan cara berjalan di atas tali tersebut. Atau melakukan aktifitas lain di atas tali tersebut.
“Karena tak mungkin kita gunakan kalongking untuk pementasan teater ini, maka kita coba mengadopsinya dengan menghadirkan bentuk lain, yaitu jambean dengan Gagar Mayang di atasnya,†ungkap Arif.
Sedangkan Gagar Mayang, bendera kertas dengan aneka warna kalau di Sandur disebut Rontek, yang dipasang di atas pohon Pinang sebagai simbul memanggil Dewi Sri. Sementara warga meyakini jumlah bidadari yang hadir sebanyak 144. Mereka diundang turun ke bumi dan merasuk ke jiwa 4 bocah Sandur. Sebanyak 40 bidadari lainnya merasuk ke 40 orang Panjak Hore, dan 100 lainnya merasuki jiwa-jiwa gersang penontonnya.
“Dalam pementasan Sandur yang sesungguhnya, pertunjukan menjadi semarak setelah dimasuki ruh bidadari,†pungkas Arif.
Secara umum, tambah M Taufiq, proses teater yang dia garap kali ini mengusung konsep kearifan lokal. Salah satu jalannya adalah mengadopsi beberapa konsep dari kesenian tradisional di Tuban yaitu Sandur.
Untuk alur cerita Padhang Mbulan sendiri, digambarkan tentang keadaan suatu desa yang dahulunya bisa dinikmati dengan kegembiraan para anak-anak. Kegembiraan anak-anak sendiri disebabkan dengan mudahnya mencari tempat untuk bermain.
Tapi kegembiraan tersebut serta merta musnah. Saat arus modernisasi mulai masuk di desa tersebut. Sehingga anak-anak semakin kesulitan dalam mencari tempat bermain. Hal ini diceritakan dengan berubahnya ladang yang biasa mereka gunakan untuk bermain menjadi tempat berdirinya gedung pencakar langit. Lapangan yang biasa mereka gunakan
untuk bermain juga telah berganti dengan jalan tol, dan terakhir adalah sawah yang biasa mereka singgahi pun sudah berganti menjadi supermarket.
“Di akhir permainan mereka dengan kepolosan dan keluguannya merasa kaget, bingung, dan tidak sadar telah hilangnya ruang bermain,†terang M Taufiq.
Diketahui, komunitas teater Semak SMK PGRI 2 Tuban tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi Festival Teater Pelajar Se – Jawa Timur. Festival ini akan diadakan disalah satu kampus swasta yang ada di Lamongan pada tanggal 27 Nopember 2012 mendatang. (edy purnomo)