Bergulat dengan Lumpur Demi Pendidikan Siswa Pinggiran

heny

Kesetiaan seorang guru dalam menjalankan manah profesi adalah segalanya. Paling tidak itu tercermin dalam diri para pendidik di desa terpencil.

SEBAGAI guru di desa terpencil memang tak mudah. Di samping tanpa tunjangan tambahan, mereka harus bergulat dnegan beragam aral saat menggelar program belajar mengajar. Terlebih bagi guru SD di wilayah desa yang jauh dari kota.

Demikian pula yang dilakoni seorang, Heny Dian Purwandini (27). Perempuan guru di SDN III Desa Papringan, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini kenyang dengan rintangan. Dia harus menempuh perjalanan 35 Km dari rumahnya di Desa Kemamang, Kecamatan Balen, Bojonegoro setiap hari menuju tempatnya mewedar  ilmu kepada anak didiknya.

Dukuh Joho di Desa Papringan memang tak mudah ditempuh. Akses insfrastruktur jalan tak bagus, karena masih berupa jalanan batu dan tanah. Jalan masih terjal dan naik turun pegunungan.

Terlebih jika musim penghujan mendera wilayah ini. Ibu Heny, demikian dia akrab disapa oleh para murid,  dan warga dusun di tengah hutan dan lereng gunung di sana, musti mengeluarkan tenaga ekstra.

“Kalau tidak hujan jalannya berdebu, dan penuh bebatuan yang membuat saya berhati-hati mengendarai motor. Apalagi sekarang masuk musim penghujan, makin berat menuju tempat mengajar,” kata ibu satu putra yang lahir pada medio 1985 ini.

Baca Juga :   Tak Lupakan Tanggung Jawab Sosial

Bila curah hujan tinggi kecemasan kian menukik Heni, maupun guru lainnya di SDN tersebut. Mereka harus melalui jalanan berlumpur untuk bisa sampai ke sekolah untuk menemui murid-muridnya.  

Kondisi geografis wilayah di pegunungan, makin tak menguntungkan disaat hujan turun. Di samping angin selalu berembus kencang menyertai turunnya air hujan, tak jarang petir mencabik-cabik perbukitan di saat Heny berangkat menjalankan amanah sebagai guru.

“Saya harus mengatur jam saat berangkat dari rumah, agar bisa sampai di sekolahan tepat waktu. Kasihan anak-anak kalau tidak diberi contoh dalam disiplin waktu,” kata Heny.   

Dia masih ingat ketika pelaksanaan UASBN (Ujian Sekolah Berstandart Nasional) pada tahun 2011 lalu. Kala itu saat musim hujan turun, dan dia berjuang melawan kubangan jalan penuh lumpur. Karena tidak bisa mengendalikan laju motornya, akhirnya terjerembab di kubangan jalan. Sekujur tubuhnya pun basah penuh lumpur.

“Karena tiap USBN pasti pada bulan lima atau Mei, bertepatan dengan musim hujan ya sudah terbiasa dengan kondisi berangkat penuh lumpur dan tidak karuan,” paparnya sambil tersenyum.

Baca Juga :   Gilas Dua Pasar Modern dan Tradisional

Hanya karena mengingat nasib pendidikan muridnya saja, membuat seorang Heny bertahan. Apalagi saat muridnya akan menempuh ujian, hujan dan bergelut dengan lumpur pun tak patut dihiraukan.

“Ya harus tetap semangat menerjang jalan penuh liku seperti itu,” katanya seraya menunjukkan foto kenangan saat menjaga ujian muridnya dengan tubuh belepotan sisa lumpur.

Tak hanya itu, dia bahkan beberapa kali jatuh terguling bersama motor karena jalan yang licin dan mendaki. Mantel hujan yang dipakai saat berangkat mengajar pun penuh lumpur dan sobek. Bahkan, sepatu yang dipakai ikut jebol, sehingga meneruskan perjalanan tanpa alas kaki.

Wanita berjilbab itu tidak merasa terbebani dengan kondisinya saat berangkat atau pulang mengajar. Meski begitu, terkadang hati nurani sebagai guru yang merasa miris dengan kondisi sekolah yang jauh dari bangunan sekolah di wilayah kota. (ririn wedia/bersambung)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *