Petani Tadah Hujan Mulai Tebar Benih

bertani

SuaraBanyuurip.comEdy PUrnomo

 Tuban – Petani lahan tadah hujan di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur nekad menabur bibir, sekalipun turunnya air hujan masih belum teratur. Aksi nekad para petani ini dipicu oleh curah hujan yang mulai tinggi sejak tiga hari terakhir di wilayah setempat.

Jika kondisi musim penghujan normal petani menabur benih ini sejak sebulan lalu. Akan tetapi karena datangnya hujan yang tak teratur, mereka lebih memilih untuk berhenti,  dan menunggu hingga curah hujan benar-benar tinggi.

“Sebulan lalu kita belum berani menabur benih, karena hujan sulit diperkirakan kapan mulai turun,” kata Karsiban (54), petani tadah hujan asal Desa Tegalbang, Kecamatan Palang, Tuban, Jawa Timur, Senin (3/12/2012).

Saat hujan mulai mengguyur wilayah Kabupaten Tuban beberapa hari terakhir, mereka akhirnya nekat untuk beramai-ramai ke ladang untuk memulai musim tanam. Biasanya, saat seperti ini tanaman mereka sudah berumur satu bulan lebih, dan sudah mulai untuk melakukan pemupukan.

“Kalau normal, bulan Desember seharusnya sudah mulai memupuk,” tambah Karsiban.

Baca Juga :   Rombongan Elf Usai Antar Mempelai Asal Ngraho

Sementara itu, nasib kurang beruntung dialami sejumlah petani di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Merakurak, Tuban. Ditaksir, mereka merugi hingga satu juta lebih untuk satu hektar tanaman jagungnya. Kondisi ini, akibat curah hujan yang tak menentu. Sehingga berpengaruh pada benih jagung yang telah mereka sebar sebulan lalu.

“Jagung saya banyak yang mati, karena kurang air,” kata Sugiyo (39), petani yang ditemui di lahan tadah hujan yang ada di Desa Pongpongan, Merakurak, Tuban.

Dirinci kerugian mereka meliputi bibit jagung yang mencapai harga Rp55 ribu per kilogramnya. Sedang untuk satu hektar dibutuhkan sekitar 15 kilogram bibit jagung, sehingga ditotal kerugian mencapai Rp1 juta lebih, apabila ditambah dengan biaya pengeluaran untuk tenaga manusia dan makannya.

“Ya sekitar satu juta lebih ruginya, Mas,” tambahnya.

Saat ini, petani mengaku akan melakukan penanaman kembali apabila hujan turun. Mereka terpaksa melebur tanaman jagung yang hampir mati tersebut.

“Kita lebur lagi sambil menunggu hujan benar-benar turun, dan normal,” tambah Sugiyo.

Baca Juga :   CSR Diarahkan Untuk Kembangkan UMKM

Sejumlah Desa yang tersebar di 20 wilayah kecamatan yang ada di Tuban menggantungka hasil pertanian mereka dari air hujan. Saat ini, petani mengaku merasa bingung dengan perubahan musim yang teratur. Petani juga berharap, adanya bantuan dari pemerintah yang membantu memecahkan persoalan yang tengah melilit mereka. (edp)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *