SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Sebanyak 200 Kepala Keluarga (KK) di Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur terancam pindah rumah karena tanahnya ambles tergerus aliran sungai Bengawan Solo. Kondisi ini terjadi karena tak ada tanggul sungai seperti desa-desa lain di skeitar sungai terpanjang di Jawa tersebut.
Lokasi desa ini terbilang berada di tengah aliran sungai, sehingga saban tahun menjadi langganan banjir luapan Bengawan Solo. Terlebih desa ini dikepung aliran sungai Bengawan Solo dari tiga penjuru arah mata angin. Mirip bendungan sungai yang tidak jadi, karena nyaris berada di tengah sungai yang terbelah.
“Kalau air naik, kami pasti menjadi resah, karena tanah yang kami tempati sedikit demi sedikit akan terbawa air,” ujar Yeni (25), warga setempat, Rabu (5/12/2012).
Karena sebagian besar wilayahnya menjorok di tengah sungai, saat debit air naik otomatis sebagian besar wilayah tersebut akan tergenang air. Â Ketika air surut, maka wilayah dan tanah desa tersebut semakin berkurang karena hanyut terbawa arus air benagwan.
Kondisi ini membuat tanah desa setempat menjadi ambles, dan mengancam merobohkan rumah penduduk. Merasa terancam warga kemudian satu persatu memindahkan rumah mereka. Karena tidak mau mengambil resiko dengan robohnya rumah maupun hanyut terbawa banjir.
“Setiap musim hujan, selalu saja ada keluarga yang memindahkan rumah. Karena semakin hari yang longsor semakin parah,” tambah Yeni.
Dikonfirmasi  Kepala Desa Kebomlati, Fathoni, membenarkan, kalau saat ini tanah di desanya semakin berkurang karena abrasi sungai Bengawan Solo. Akibatnya, selama bertahun-tahun warganya selalu didera kekhawatiran, dan terpaksa memindahkan rumahnya ke tempat yang lebih aman.
“Ini karena tidak ada tanggul atau plengsengan,” kata Fathoni.
Dia berharap, baik dari Pemkab Tuban maupun Balai Besar Bengawan Solo (BBBS) memperhatikan kondisi mereka. Dengan membangun pembatas atau membuatkan plengsengan di bantaran sungai yang melewati desa mereka sejauh 3 kilometer. Agar ancaman terkikisnya desa tersebut tidak terjadi.
“Kami berharap pihak yang berwenang segera turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Fathoni.
Data yang didapat, selama ini sudah ada sekitar 200 rumah warga yang telah direlokasi. Sebagian warga terpaksa direlokasi di Tanah Kas Desa (TKD) setempat. Sebagian lain menempati tanah mereka sendiri yang berada di sisi selatan desa tersebut. (edp)