SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Stigma sebagai tempatnya pelajar nakal bagi SMK PGRI Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tampaknya sudah mulai hilang. Kini sekolah kejuruan ini mulai berbenah untuk mencetak alumni yang berkualitas dan religius.
Perubahan drastis di lembaga pendidikan yang berlokasi di Jalan Bulaksari, Desa Sogo, Kecamatan Babat, Lamongan ini mulai terjadi sejak tiga tahun terakhir. Sejak tahun ajaran 2010, Kepala SMK PGRI Babat, M Nurul Hilal,  bersama para guru disana benar-benar serius menggarap siswanya.
Predikat sekolah yang banyak ditempati anak-anak bengal, dan urakan perlahan dikikis. Kini mereka lebih mengintensifkan pendekatan persuasif, dan pembinaan keagamaan.
“Sejak penerimaan siswa baru bimbingan mental telah diberikan. Mereka diberikan motifasi keagamaan, dan spirit agar tidak terjerumus pada kenakalan pelajar, “ kata Hilal kepada SuaraBanyuurip.com di kantornya, Sabtu (8/12/2012).
Bahkan, pihak sekolah mengundang khusus alumni dari SMK PGRI yang telah sukses berkarier untuk menumbuhkan motivasi kepada siswa. Tujuannya, agar adik-adiknya bersekolah sungguh-sungguh hingga bisa sukses.
Sedangkan Wakil Kepala SMK PGRI Babat bidang Kesiswaan, Abdullah Ismail, menyatakan, walau sekolah swasta banyak alumni sekolahnya sukses berkarier, baik di instansi pemerintahan, TNI/Polri hingga atlet nasional. “Yang paling berkesan bagi para alumni adalah kedisiplinan yang ditimba selama bersekolah disini hingga bisa menjadi orang, “ kata Ismail.
Ismail yang dikenal sebagai penegak disiplin di sekolah ini tugasnya memang mendisiplinkan siswa yang melanggar aturan. Namun diakuinya, sekarang ini dengan semakin tertatanya SMK PGRI Babat, dirinya tidak pernah lagi menjatuhkan hukuman secara fisik namun lebih pada hukuman mendidik.
“Kalau sekarang hukumannya sebatas membacakan Pancasila, atau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya,“ cetus Ismail. Walau terkesan sederhana, hukuman tersebut hasilnya cukup efektif. Mereka yang melanggar peraturan sekolah tidak berani mengulangi lagi.
Untuk mengantisipasi siswa bolos, pihak sekolah telah menjalin kerja sama dengan orangtua siswa. Pihak sekolah telah mencatat nomer telpon/HP orang tua siswa.
“Jadi kalau ada anak tidak masuk, pihak sekolah langsung mengontak orangtua anak. Dengan cara ini, sekolah maupun orangtua bisa sama-sama memantau pendidikan anak,“  jelas Ismail.
Jika ada siswa yang tiga hari berturut-turut tidak masuk, Ismail langsung turun melakukan home visit. Bahkan, secara berkala, Ismail juga berkeliling ketempat-tempat yang disinyalir digunakan nongkrong pelajar yang bolos sekolah.
Pembinaan ketakwaan dilakukan dengan mengadakan kegiatan Sholat Dhuhur berjamaah di sekolah. Sebelum pulang sekolah, siswa diwajibkan untuk sholat berjamaah di ruangan yang telah disulap menjadi musholla. Setelah sholat berjamaah diberikan siraman rohani yang dilakukan Kepala Sekolah.
SMK PGRI dengan 357 siswa, dan 54 pengajar ini, selain memberikan bekal skill melalui jalur kejuruan, juga memberikan keleluasaan kepada siswa menyalurkan bakat dan kreasi di wadah ekstra kurikuler. Beberapa kegiatan ekskul diantaranya, adalah komputer, sepakbola, dan voli.
Dikegiatan sepakbola, SMK PGRI Babat dikenal sebagai jawara. Dalam setiap turnamen sepakbola baik tingkat sekolah maupun umum, kesebelasan besutan Ismail ini selalu menjadi langganan juara. “Prestasi terakhir adalah juara Lily Cup tingkat kabupaten, “ papar Ismail.
Dibidang akademis, SMK PGRI Babat selalu mengirimkan pelajar terbaiknya untuk ikut berkompetisi. “Alhamdullillah, walau belum bisa juara, namun sudah sering masuk lima besar, “ kata Hilal.
Yang lebih membanggakan, selama tiga tahun berturut-turut, angka kelulusan SMK PGRI Babat selalu 100 persen. Prestasi inilah yang menjadikan SMK PGRI Babat, masih menjadi favorit sekolah kejuruan swasta di Kabupaten Lamongan. (tok)