SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Baru enam bulan selesai dibangun gedung SDN Bulutengger, di Desa Bulutengger, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ambruk. Disinyalir ambruknya gedung sekolah tersebut karena proses pembangunannya asal-asalan.
Robohnya dua bangunan gedung sekolah tersebut terjadi, Selasa (11/12/2012) pukul 04.30 WIB. Saat itu hampir semalaman hujan deras bercampur angin kencang terjadi di Desa Bulutengger.
“Kalau dipikir sebenarnya bukan karena faktor hujan yang menjadikan gedung ambruk, namun memang karena kualitas bangunannya yang jelek,“ kata Kepala SDN Bulutengger,  Suberi (51), dikonfirmasi SuaraBanyuurip.com, Kamis (13/12/2012).
Melihat bangunan gedung ambruk, Suberi langsung melaporkan ke Kepala UPTD Dikspora Sekaran, H Suparto. Pagi itu juga Kepala Dinas Dikpora Pemkab Lamongan, Â Agus Suyanto, datang meninjau lokasi kejadian.
Dari pantauan di lokasi sekolah tersebut, kerusakan pada dua bangunan tersebut sangat parah. Atap gedung ambrol. Kayu dan gentengnya berserakan di lantai. Sedang salah satu dinding hampir separuh jebol. Sampai saat ini, pihak sekolah masih belum membersihkan serakan genteng dan kayu karena masih dipasang police line.
“Saya melarang murid dan guru untuk mendekati lokasi menunggu proses perbaikan dari pemkab, atau kontraktor yang menangani pembangunan gedung tersebut. Kondisinya sendiri masih membahayakan,“ kata Suberi.
Bangunan dua gedung tersebut merupakan proyek kontraktual yang didanai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Pemkab Lamongan tahun 2011. Awalnya, bangunan tersebut ditempati siswa kelas I A dan I B, namun atas berbagai pertimbangan pihak sekolah kemudian menggunakanya untuk tempat penyimpanan barang. Siswa kelas IA dan IB yang digabung menjadi satu kelas dan dipindah ke kelas lain.
Suberi yang baru 4 bulan menjabat mengaku, tidak tahu proses pembangunan gedung. Termasuk nama kotraktor yang menangani pembangunan gedung SD tersebut.
“Saya tidak paham CV apa yang membangun gedung karena belum disini (menjabat kasek SDN Bulutengger I), “ kata Suberi.
Kepala UPTD Dikspora Kecamatan Sekaran, H Suparto, mengaku juga tidak tahu perusahaan mana yang mengerjakan proyek gedung SDN Bulutengger I. “Saya benar-benar tidak tahu, Mas. Karena setiap pengerjaan proyek kontraktual, UPTD Dikspora tidak pernah dilapori. Selalu dilangkahi,†cetus Suparto.
Melihat buruknya kualitas bangunan yang dikerjakan secara kontraktual, Suparto sangat setuju bila pembangunan gedung SD dilakukan secara swakelola. Dengan swakelola, semuanya bisa mengawasi dan kualitas bangunannya selalu bagus. (tok)