SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Tingginya intensitas hujan yang turun akhir Desember hingga diperkirakan Januari mendatang menjadi ancaman serius sejumlah wilayah di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sebab ada beberapa desa di Tuban yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo yang menjadi langgan banjir akibat meluapnya sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.
Beberapa titik rawan bencana luapan Sungai Bengawan Soslo tahun ini yaitu Kecamatan Soko, Kecamatan Plumpang, Kecamatan Rengel, dan Kecamatan Widang.
Selain luapan Bengawan Solo, ancaman lain yang perlu diantasipasi adalah luapan dari Avur (saluran irigasi) saat curah hujan tinggi. Akibat bencana ini menjadikan ratusan lahan persawahan maupun rumah penduduk kerap tergenang air. Kondisi itu menjadi momok bagi petani karena padi yang ditanam dapat dipastikan gagal panen.
“Selama ini, bencana yang masih mendominasi di Tuban memang bencana air,†ujar Kasi Linmas Kesbangpolinmas, Saeifiyudin, saat dihubungi disela acara pelatihan selam untuk penyelamatan bencana air oleh Search and Rescue (SAR) Kabupaten Tuban di kolam renang pemandian Bektiharjo, Kecamatan Semanding.
Menurut Saeifiyudin, ancaman bencana air ini terjadi karena banyaknya wilayah yang menjadi perairan di Tuban. Seperti banyaknya korban tenggelam di laut utara Tuban maupun di Bengawan Solo.
“Selain banjir, bencana air di Tuban seperti banyaknya korban tenggelam baik dilaut maupun di Bengawan solo,†tambahnya.
Untuk itu, selama dua hari terakhir, Â tim SAR yang ada di Tuban dibekali dengan pelatihan ketrampilan selam dan penyelamatan bencana air. Pelatihan itu diikuti 40 peserta yang terdiri dari Satpol PP, Mahasiswa Pecinta Alam, Organisai Pemuda Pecinta Alam, Tagana, PMK, dan Dinas Pariwisata Tuban.
Trainer pelatihan selam, Havid, mengatakan, tim SAR yang ada di Tuban sebenarnya sudah dirasa cukup mempunyai ketrampilan penanganan bencana air. Karena mereka rata-rata anggota lama yang sudah lama berpartisipasi dalam penanganan bencana.
“Karena mereka sudah kompak, dan tentunya kekompakan adalah modal utama dalam dalam penanganan dan evakuasi bencana air,†kata havid.
Diketahui, selama ini sudah ada 50 orang yang tergabung dalam Satuan Pelaksana (Satlak) SAR kabupaten Tuban. Mereka berasal dari unsure mahasiswa, ormas, dan beberapa organisasi yang memiliki potensi SAR. Penanganan bencana masih dilakukan oleh Kesbangpolinmas, karena belum terbentuknya Badan Penanggulanagan Bencana Daerah di Kabupaten Tuban. (edp)