SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Selama kurun 10 tahun terakhir mulai tahun 2002 sebanyak 265 warga Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menderita HIV/AIDS dengan angka kematian sebanyak 58 penderita. Para penderita penyakit mematikan itu menyebar di 26 dari 28 wilayah kecamatan di Bumi Angling Dharmo.
Sementara itu, sepanjang tahun 2012 hingga akhir bulan November 2012 ini, ditemukan sebanyak 76 warga terkena HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut sebanyak 17 orang telah meninggal akibat sistem kekebalannya digerogoti virus HIV/AIDS.
“Penyebaran penyakit ini merata di seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro, dari 28 kecamatan yang ada hanya Kecamatan Gondang, dan Margomulyo yang belum ditemukan ada penderita HIV/AIDS,†kata Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Dr Hariyono. Â
Dia katakan, jika diklasifikasikan menurut umur rata-rata penderita HIV/AIDS didominasi oleh mereka yang berusia 40 sampai dengan 44 tahun yang mencapai 23 orang penderita. Sedangkan mereka yang balita yakni usia 5 sampai dengan 9 tahun sejumlah 3 orang penderita. Untuk kasus pendeita HIV/AIDS anak ini, akibat tertular dari orangtua mereka sejak dalam kandungan.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Bojonegoro, Suyoto, mengatakan, HIV/AIDS  terjadi di kalangan buruh, dan mereka yang hidup dalam ekonomi rendah. Ini harus menjadi pertanyaan besar dan solusi apa yang harus  dupayakan, untuk menekan jumlah penderita dan penularannya.
“Melihat jumlah penderita yang terus meningkat dari tahun ke tahun, kita harus melakukan upaya penanggulangan yang tepat melalui beberapa program,†tegas Suyoto.
Program yang dilakukan, diantaranya, pertama mencegah publik utamanya mereka yang selama ini kurang sadar dengan kesehatan reproduksi, agar tidak terjangkit virus yang menyerang kekebalan tubuh ini. Yang kedua adalah mengintensifkan sosialisasi dan pendidikan dini bagi mereka yang potensial untuk terjangkit virus HIV/AIDS.
Kang Yoto, sapaan akrab Bupati menyatakan, berdasarkan data yang ada untuk Bojonegoro penderita AIDS didominasi mereka yang hidup dalam ekonomi menengah ke bawah. Melihat fenomena ini ada dua kemungkinan, yakni kesadaran mereka yang kurang ataukah mereka mencari penyaluran aktifitas seksual yang murah tanpa memperhatikan kesehatan. Ini harus benar-benar dicermati jangan sampai penderita HIV/AIDS ini akan terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun.
“Harus diingat betul HIV/AIDS ini diduga akibat perilaku seksual,†tukasnya.
Bupati menjelaskan, upaya penanggulangan yang akan dilakukan adalah memberikan pemahaman kepada mereka yang potensial terjangkit virus ini. Salah satunya adalah bagi mereka yang akan bekerja di luar Bojonegoro, agar tidak melakukan aktifitas seksual dengan pekerja seks komersial maupun mereka yang terindikasi terjangkit virus mematikan ini.
Penyebaran penyakit ini terkadang bukan dari Bojonegoro, namun bisa saja mereka yang selama ini bekerja di luar wilayah Bojonegoro. Penyebaran ini harus mendapatkan perhatian dari semua pihak baik pemerintah unsur keagamaan dan lain sebagainya. (rien)