Sepuluh Tahun Bergulat dengan Amis

SuaraBanyuurip.com - 

Lamongan – Menekuni pekerjaan sebagai pengepul balung (tulang) bukan perkara mudah. Disamping sering dipandang sebelah mata karena bau amis  tulang, juga sulitnya mencari balung.

Tapi tidak bagi Sunandar,(45). Warga Dusun Grogol, Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, itu justru memperoleh pendapatan lumayan dari pekerjaannya sebagai pengepul balung. Karena itulah dia tetap bertahan untuk menekuni pekerjaan tersebut.

Per hari Sunandar mengaku memperoleh keuntungan bersih Rp75.000 – Rp120.000. Keuntungan itu ia dapatkan dari menjual balung antara 5 – 7 kwintal yang dibelinya dengan harga Rp800 per kwintalnya.

Kemudian balung sapi maupun kambing itu Sunandar setor ke pengepul besar di dusun Grogol dengan harga Rp1.000 per kwintalnya. Balung sapi dan kambing itu sendiri oleh pengepul besar disetor ke sebuah perusahaan pakan ternak di Sidoarjo sebagai bahan baku kosentrat.

”Paling sepi setiap hari dapat 3 kwintal,” kepada SuaraBanyuurip, Kamis (20/12/2012).

Untuk mendapatkan balung sapi atau kambing itu tidak mudah. Namun Sunandar memiliki trik yakni mendekati pedagang bakso dan jagal sapi sebagai pelanggannya. Pelanggan itu jumlahnya mencapai ratusan yang tersebar baik didalam maupun dluar wilayah Lamongan.

Baca Juga :   Menebar Inspirasi Motivasi Jadi Wirausahawan Tangguh

Seperti di wilayah Modo dan Bluluk, Sokorame, Lamongan, Boureno dan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro,  hingga Plumpang, Rengel, Soko, Parengan, Kabupaten Tuban.

Setiap hari Sundar harus bolak-balik hingga dua kali untuk mengambil dan mengantar balung ke pengepul. Sebab ronjot di motor yang ia gunakan untuk mengangkut balung itu hanya berkapasitas 3 kwintal.

“Setiap hari harus keliling ke daerah tersebut. Tapi lebih enak karena sekarang tinggal mengambil saja,” cetus Sunandar. 

Pria lulusan SMP ini mengaku, mulai menekuni pekerjaan sebagai pencari balung sejak 2002 silam. Sebelumnya, selama lima tahun, ia bekerja sebagai pemulung dan pengepul barang seperti layaknya mayoritas warga di dusunnya.

“Pengepul balung banyak dijauhi pengepul barang bekas. Karena ndak kuat dengan bau busuk dan amisnya. Tapi keuntunganya lebih lumayan dibanding pengepul barang bekas,” ungkap Sunandar.

Dia menceritakan, awalnya dia juga merasa jijik sebagai pencari balung. Bahkan ia mengaku suka mual saat memegang balung yang banyak dikerumuni lalat.Untuk mengatasi bau menyengat itu, Sunandar memiliki resep sederhana yaitu mengoleskan minyak kayu putih dihidungnya sehingga tidak tercium lagi bau amis tulang.

Baca Juga :   Berburu Jamur Barat Jadi Berkah Warga Pinggiran Hutan

“Sekarang sudah kebal. Aroma amis sekarang seperti semerbak bunga melati,” sahut Kusnandar sambil terkekeh.

Walau dianggap pekerjaan menjijikkan, Sunandar merasa bangga dengan pekerjaannya sebagai pengepul balung. Dari pekerjaan inilah, dirinya bisa menyekolahkan 4 anaknya hingga tamat SMA . Bahkan anak sulung dan anak menantunya, sejak dua tahun terakhir mengikuti jejaknya sebagai pengepul balung.

“Mau jadi PNS jelas gak mungkin, soale gak punya ratusan juta untuk nyogok. Akhirnya dua anak saya memilih menjadi pengepul balung. Hasilnya juga lebih besar dari gaji pegawai,” cetus suami dari Pujiati ini bangga.

Selama belasan tahun menjadi pengepul balung, bagi pria yang akrab di sapa ”Raja Balung” itu tidak ada kesan berarti. Hanya setiap ada operasi kendaraan ia lolos dari pemeriksaan polisi.

“Mungkin mereka ndak kuat dengan bau balung yang menyengat,” pungkasnya. (totok martono)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *