SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan- Sejak tiga bulan terakhir siswa SDN Bogoharjo, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur menempati balai desa setempat untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Hal itu terjadi setelah pelaksanaan proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) tak jelas kapan selesainya.
Sedangkan para siswa malang tersebut berasal dari kelas 3, dan kelas 4 karena ruang kelas mereka masih direhab dalam proyek RKB. Kini mereka menempati ruang ukuran 4×4 meter di kantor desa tersebut, tanpa ada kepastian kapan proyek tersebut tuntas.
Dari pantauan Suara Banyu urip.com, anak-anak di dua kelas tersebut sudah tidak betah menempati ruang kelas mirip gudang itu. Selain kotor, ruang yang digunakan sempit dan pengap karena tidak ada ventilasi.
“Tidak bisa tenang belajar. Keterangan bapak guru tidak bisa nyantol di otak,“ kata seorang siswa saat ditemui di depan ruang kelas sementara tersebut.
Karena tidak betah menahan sumuk, para siswa mengajak gurunya untuk pindah ke luar di pendapa desa. Guru kelas yang tidak tega melihat muridnya kegerahan terpaksa meluluskan permintaan muridnya.
Kebetulan jika hari sabtu kantor desa perangkatnya libur sehingga bisa menempati pendapa desa. Namun, karena kurangnya bangku untuk duduk, terpaksa banyak siswa harus berdiri sambil menyimak materi pelajaran guru.
Sekadar diketahui, SDN Bogoharjo I mendapat bantuan 4 RKB sebesar Rp200 juta. Dananya dari DAK 2012 dikerjakan secara swakelola. Sayangnya, karena kucuran dana dari Pemkab seret, pengerjaannya tidak bisa tepat waktu.
Seharusnya sesuai jadwal, pembangunan harus rampung tanggal 28 Desember 2012, namun tinggal satu minggu dari jadwal waktu yang ditentukan, pembangunan baru mencapai 60 persen. Yang menjadi korban adalah para siswa, mereka harus belajar di ruangan yang pengap dan kotor. (tok)
