Suparno Kolektor Benda Antik Dari Jati

suparno

SuaraBanyuurip.com – Totok Martono

Lamongan- Benda-benda lawas berbahan kayu jati menjadi perburuan para kolektor benda-benda antik. Nilai jualnya pun melambung puluhan hingga ratusan juta rupiah. Pangsa pasarnya masih cukup prospektif.

Usaha ini dibidik Suparno (45) Kepala Desa (kades) Sumberaji, Kecamatan Sukodadi, Lamongan, Jawa Timur. Sudah belasan tahun dia menjadi kolektor dan jual beli benda kuno tersebut.  

Masuk ke rumah Suparno seakan terbawa ke masa setengah abad silam. Betapa tidak, di ruang tamu berukuran 10 x 15 meter itu, banyak terdapat piranti-piranti ‘potongan’ bangunan rumah lawas yang semuanya dari jati. Di setiap dinding rumah penuh dengan gebyok (kayu dinding) beraneka ukuran.

Gebyok tersebut di jaman baheula merupakan dinding pintu rumah, atau dinding penyekat ruang tamu, dan ruang tengah. Pada masanya hanya keluarga-keluarga berada, priyayi atau keturunan ningrat yang memiliki bangunan rumah dengan dinding gebyok jati berukir tersebut. Semua gebyok tersebut penuh dihiasi ukiran bunga, batik,  dan tokoh wayang.

Barang antik lainnya yaitu seperangkat kursi meja antik, lemari hias, peturon (tempat tidur), lampu, dan barang antik lainnya. Rata-rata berusia 50 tahun hingga ratusan tahun. Sementara di halaman depan rumah, tergeletak lesung, dan yangku (bayang) yang saat ini sudah sangat langka.

Hari itu Suparno juga baru membeli seperangkat gamelan, dan sekotak besar wayang kulit. Dibeli dari pemiliknya Rp10 juta.

Baca Juga :   SOHO, Business Solution, dan Digital Media

“Ini tinggal sedikit. Seminggu lalu baru saya jual koleksi saya, “ ujar Suparno. Sekali penjualan barang koleksinya yang terdiri dari beragam jenis barang lawas, Suparno mengaku langsung satu kontainer.

Untuk penjualannya sudah ada juragan besar yang membeli berapapun barang koleksinya. Biasanya, barang dibawa dulu dengan transaksi harga yang sudah disepakati. Beberapa bulan kemudian baru dibayar.

“Barang yang saya kirim senilai Rp1,3 milyar. Namun dibayar enam bulan ke depan, “ ungkapnya. Nanti dana tersebut akan dipergunakan untuk biaya pencalonan kades periode kedua. Sisanya akan digunakan untuk berburu lagi barang-barang lawas dan antik.

Menekuni bisnis jual beli barang lawas nan antik dilakoni Suparno secara tidak sengaja. Di tahun 2000-an dirinya berniat merehab rumah orangtuanya yang terbuat dari kayu jati dengan bangunan tembok.

Usai merehab rumah, bekas rumah  yang ddiantaranya yaitu gebyok berukir, dibiarkan begitu saja. Dasar sudah rejeki, tiba-tiba datang kolektor benda-benda tua dan berniat membeli sisa bangunan rumahnya tersebut.

“Kolektor itu berani membayar mahal, ya saya lepaskan, “ ujar Suparno yang mengaku lupa berapa rupiah hasil penjualan kayu bekas rumahnya itu.

Dari situlah insting bisnisnya muncul. Suparno tertarik untuk mencoba bisnis jual beli barang-barang antik. Untuk mengawali usahanya Suparno mencari barang-barang tempo dulu dari warganya. Apa saja yang berjenis unik langsung dibelinya.

Baca Juga :   Slamet Andi, Pemuda Ngasem Bakal Rilis Single Kedua Berjudul Sego Kucing

“Biasanya barang-barang berusia puluhan tahun itu digeletakan begitu saja di dapur. Seperti lesung, lumpang atau yangku. Pemiliknya malah senang ketika saya beli karena dianggap nyumpeki rumah, “ tutur bapak dua anak ini sambil tersenyum.

Harga barang yang dia beli relatif murah. Seperti satu set kursi hanya dibeli Rp700 ribu, gebyok Rp5 juta, meja hias Rp7 juta. Sedang untuk lesung, dan yangku dibeli hanya Rp200 hingga Rp300 ribu.

Dari harga beli yang relatif  murah tersebut, nilai jualnya bisa berlipat 50 persen hingga 100 persen ketika dijual ke pedagang besar.  “Untuk gebyok yang belinya Rp5 juta, kalau dijual bisa mencapai Rp60 juta, “ terang Suparno yang mengaku tidak pernah rugi atau diapusi selama belasan tahun menekuni bisnisnya tersebut.

Barang-barang koleksinya yang dijual ke pengepul besar tersebut, dipasarkan di Bali, Batam hingga ke Singapura. Untuk gebyok banyak digunakan sebagai pintu villa, lumpang disulap menjadi meja lesehan sedang lesung untuk pot bunga anggrek.

Satu obsesi Suparno yaitu membangun galeri khusus untuk menampung barang-barang antik koleksinya. Banyak kolektor yang berdatangan ke tempatnya untuk mencari barang-barang antik.  

“Pernah ada orang Australia yang datang langsung kesini mencari peturon, kebetulan saya punya dan langsung dibeli dengan dollar, “ cetus Suparno bangga. (tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar