BLH Bojonegoro Tegaskan Tidak Ada dalam UKL-UPL

SuaraBanyuurip.comRirin W

Bojonegoro – Proyek konstruksi di Well Pad C Banyuurip, Blok Cepu, yang sempat mengakibatkan banjir di sekitar areal persawahan warga ditengarai belum dilengkapi upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL-UKL) maupun analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Akibatnya ketika luberan air menggenangi persawahan warga tidak dijelaskan secara pasti bagaimana penanggulangannya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bojonegoro, Suharto ketika dikonfirmasi terkait banjir dan genangan air yang ada di sekitar Well Pad C Banyuurip mengaku, tidak tahu menahu. Bahkan dirinya menyatakan jika di dalam dokumen UKL-UPL  maupun Amdal tidak menyebutkan adanya lokasi proyek di Well Pad C tersebut.

“Dimana ada banjir? EPC 1 itu tidak ada yang namanya Well Pad A, B atau C. Well Pad itu adanya hanya di Blok tuban miliknya JOB P-PEJ (Joint Operating Body Pertamina- PetroChina East Java) sana,” tegasnya.

Dia menambahkan, jika UKL-UPL yang sudah ada hanya menyebutkan satu lokasi dan tidak menganalisis lebih rinci mengenai dampak dari proyek tersebut utamanya banjir. Karena dalam suatu proyek semua kegiatan telah dijadikan satu.

Baca Juga :   Waspadai Titik Macet Jalan Nasional Bojonegoro Mulai Baureno hingga Padangan

“Ya untuk UKL-UPL nya jadi satu wilayah EPC. Kalau mendetail di sekitar Well Pad C ada genangan atau banjir malah tidak ada. Kalau tidak percaya ya lihat saja sendiri di kantor dokumennya, disana tidak menyebutkan nama Well Pad,”sergahnya.

Suharto juga nampak bingung ketika ditanya terkait antisipasi banjir ketika hujan turun pada pelaksanaan proyek di EPC 1 ini yang mana seharusnya tertuang didalam AMDAL menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan agar layak secara lingkungan.

“Tapi terimakasih informasinya. Besok akan saya cek ke lapangan apa itu Well Pad dan seperti apa akibat hujan turun,”tukasnya.

Terpisah, Kontraktor Engineering, Procurement and Constructions (EPC) 1, Project Banyuurip, Blok Cepu, PT Tripatra Engineers and Constructors mengakui hingga saat ini masih terjadi banjir disekitar proyek.

Communication and CSR Manager Tripatra, Dony Hermawan, kembali menyampaikan jika monitoring tim sosio economic PT Tripatra terus dilakukan untuk mengambil langkah-langkah strategis guna menanggulanginya.

“Sekarang,tim sedang melakukan meeting dengan pihak-pihak terkait bagimana agar air yang masih menggenang tidak bertambah parah, dan meminimalisir terjadinya banjir,”tandasnya.

Baca Juga :   Bojonegoro Akan Memasuki Musim Kemarau Lebih Awal

Disinggung mengenai UKL-UPL dirinya menegaskan jika saat proyek akan dimulai tentu sudah dibahas karena merupakan salah satu komponen dalam pengerjaan proyek.

“Kita masih menggali apa yang menjadi aspirasi warga untuk penyelesaian masalah ini,”pungkasnya.

Untuk diketahui, akibat tidak maksimal drainase proyek Banyuurip itu telah mengakibatkan lahan pertanian disekitarnya selalu tergenang air jika hujan deras turun. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *