MCL Bahas Jalan Pengalihan Bonorejo

bahas jalan pengalihan

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Mobil Cepu Limited (MCL), operator migas Blok Cepu melakukan pertemuan bersama Pemerintah Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur membahas jalan pengalian warga di desa setempat yang terkena proyek engineering, procurement and construction (EPC) 1 Banyuurip, Selasa (8/1/2013).

Pertemuaan yang berlangsung di rumah Kepala Desa Bonorejo, Siti Rokayah, itu di hadiri perwakilan MCL Pandu Subiyanto dan Sita, perwakilan PT Tripatra Engineers & Constructors, Kontraktor EPC-1 Banyuurip, Budi Karyawan. Serta unsur pemerintah desa yakni, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat dan tokoh masyarakat Bonorejo, serta Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Gayam, Jaelani, juga dari pengamanan obyek vital (Pam Ovit) dan Muspika Gayam.

Dalam pertemuan itu, Kepala Desa Bonorejo, Siti Rokayah, meminta, MCL segera mewujudkan jalan pengalihan warga ke sawah dan memaksimalkan darinase (saluran air) sekitar proyek agar permasalahan yang ada dapat terselesaikan.

“Sebab janji MCL sudah delapan bulan lalu. Tapi hingga saat ini belum juga terwujud,” tegas Siti Rokayah.

Baca Juga :   Gelontor Rp 600 Triliun untuk 18 Proyek Hilirisasi, Buka Peluang 270 Ribu Lapangan Kerja

Menurut Kepala BPD Bonorejo, Parijan, dengan tertundanya pelaksanaan pembangunan jalan pengalihan sepanjang sekira 400 meter yang berstatus tanah kas desa (TKD) dan perbaikan drainase itu telah merugikan warga. Dia mencontohkan, seperti belum terwujudnya jalan pengalihan itu warga harus memutar jalan untuk sampai ke sawah ladang.

Begitupun, lanjut dia, kurang maksimalnya saluran air di sekitar proyek EPC-1 Banyuurip ini telah membuat air meluber dan merendam persawahan warga jika turun hujan deras.

“Intinya MCL jangan hanya janji saja, tapi juga bukti. Agar warga tidak kecewa dan terus-terusan merasa dirugikan,” ungkap Parijan.

Menanggapi hal itu, perwakilan dari MCL, Pandu Subiyanto, menerangkan, jalan pengalihan warga kesawah akan segera dibuatkan. Namun demikian, harus melalui proses dalam pengerjaannya. Mulai dari pembentukan tim pelaksana (Timlak), menentukan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai pendamping, dan perencanaan buget (anggaran).

“Maksimal jalan itu akan dikerjakan mulai bulan Maret 2013 mendatang,” tandas Pandu Subiyanto. (sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   PGN dan Pertamina Diwacanakan Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *