SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Sampah jika diolah ternyata menjadi berkah. Itulah yang dilakukan kelompok siswi Madrasah Aliyah (MA) YPPI Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Ditangan para pelajar itu barang bekas mampu disulap menjadi souvenir cantik.
Seperti bros, pin, gantungan kunci, gantungan hand phone (HP). Semua souvenir itu diproduksi dari limbah perca, bungkus plastik sabun, snack (makanan ringan), dan bahkan almunium sisa pabrik dandang (tempat menanak nasi atau merebus air).
“Untuk gantungan kunci, HP ini bahan dasarnya dari almunium limbah pabrik dandang. Lalu ditempeli nama atau gambar sesuai dengan selera. Sedangkan bros dari limbah perca dan bungkus plastik,†kata Siti Mutmainah menerangkan.
Munculnya kreatifitas siswi MA YPPI itu cukup unik. Yakni berangkat dari rasa keprihatinan terhadap banyaknya sampah disekitar sekolah mereka. Pemandangan kotor dan kumuh setiap hari itu akhirnya menggugah kesadaran beberapa siswa untuk membentuk sebuah kelompok yang peduli lingkungan yang diberi nama Laskar Cewek Pecinta Lingkungan (Ceciling).
Dari situlah muncul ide-ide kreatif untuk memanfaatkan dan mengolah limbah menjadi barang yang memiliki nilai jual. Hasilnya, pasukan cewek yang terdiri dari 13 siswi kelas X-XII itu mampu mengolah sampah, bahkan mendatangkan rupiah.
Barang-barang hasil produksi mereka laku dipasaran. Selain murah, barang yang diproduksi cukup menarik karena dikemas dalam plastik dan dipres dengan menggunakan alat pres buatan sendiri. Untuk membuat alat pres, kelompok ini cukup merogoh kocek sebesar Rp10.000. Sementara bila membeli alat pres mereka harus mengeluarkan uang sekira Rp200.000.
“Dengan usaha kecil ini setidaknya bisa mengurangi populasi sampah. Membantu mengatasi persoalan lingkungan,†ungkap siswi kelas XII IPS yang juga Ketua Celincing ini.
Menurut Guru Pembimbing, Wahyu Eko Susanto, barang kerajinan anak asuhannya itu sudah dipasarkan luas. Selain kelembaga pendidikan di Babat, juga dititipkan ditoko-toko souvenir. “Pangsa pasarnya cukup prospektif. Terbukti pesanan terus berdatangan, “ terang guru olah raga ini.
Larisnya kerajinan tersebut bukan saja karena bahan bakunya yang menarik yaitu dari daur ulang sampah. Namun harga jualnya yang murah. Rata-rata untuk gantungan kunci, pin, dan bros dijual hanya Rp1000 – Rp1500.
“Khusus untuk pesanan harganya disesuaikan dengan tingkat kerumitan dan lamanya waktu pengerjaan,†terang Wahyu.
Karena itu, untuk lebih mengembangkan usaha tersebut nantinya sovenir yang dihasilkan akan dipasarkan untuk cinderamata pernikahan dan acara hajatan lainnnya. Sehingga dengan begitu, akan meberi tambahan pemasukan bagi anggota Ceciling untuk membantu sekolahnya. Sebab, mayoritas anak yang bersekolah di MA YPPI dari kalangan ekonomi lemah.
“Uang SPP setiap bulannya hanya Rp30 ribu. Namun banyak anak yang nunggak bayarnya. Mereka juga tidak pernah jajan karena tidak punya uang saku,†ungkap Wahyu.
Namun, lanjut dia, dengan hasil memproduksi kerajinan tersebut siswa yang tergabung di Laskar Ceciling bisa membayar uang SPPnya sendiri tanpa membebani orang tua lagi. “Karena dari hasil jualan kita potong untuk modal dan uang kas. Seteah itu sisanya langsung dibagi merata keanggota,†jelas guru tidak tetap (GGT) ini.
Dia menambahkan, kreatifitas yang sudah ditunjukkan siswa MA YPPI ini merupakan salah satu bukti dalam rangka mendukung program green & Clean (Hijau dan Bersih) yang dicanangan Bupati Lamongan.Â
“Saya harapkan Dinnaspora (Pendidikan dan Olah raga) membantu keterbatasan sarana prasarana dan modal untuk mengembangkan kreatifitas pelajar disini,†pungkas Wahyu (tok)