Jembatan Tua Babat Tidak Terawat

jembtan babat

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan – Jembatan lama yang menghubungkan wilayah Kabupaten Lamongan dan Tuban, Jawa Timur kondisinya memprihatinkan. Papan-papan kayu yang menjadi lintasan kendaraan banyak yang telah patah sehingga membahayakan pengendara yang lewat.

Nasib jembatan tua ini kian terpuruk, setelah dibangun jembatan baru di dekat Pondok Pesantren Langitan, dan lapangan bola Widang. Dua unit jembatan dibangun berdempetan, sehingga bisa dipakai akses dua arah.

Jika saja pemerintah pandai melestarikan peninggalan bernilai sejarah, tentunya nasib jembatan lama yang lebih populer disebut cimcim lawas ini tidak akan buruk rupa  seperti sekarang ini. Kondisi papan-papan kayu di jembatan sepanjang 300-an meter tersebut telah banyak yang patah, sehingga tampak dasar aliran sungai Bengawan Solo di bawahnya.

Setiap harinya kendaraan roda empat maupun roda dua dari dua jurusan (arah widang-Tuban dan Babat-Lamongan)  melintasi jembatan yang membelah aliran sungai terpanjang di Jawa tersebut. Jika tidak waspada para pengendara roda dua akan jatuh,  dan risikonya sangat fatal karena bisa terjebur di dasar sungai yang arusnya sangat deras.

Baca Juga :   KNPI Fokus Kawal DBH Migas

“Kondisi kayunya memang banyak yang sudah patah, Mas. Kalau tidak hati-hati bisa tergelincir ke bawah,“ ujar Sueb, pengendara motor dari Banaran, Babat yang hendak menuju Rengel.

Seharusnya, menurut Sueb, pemerintah melakukan perawatan jembatan tersebut dengan mengganti papan-papan kayu yang patah, tidak menunggu sampai rusak parah.

Tidak diketahui pasti kapan dibangunnya jembatan tua tersebut. Menurut warga sekitar jembatan tersebut dibangun sejak jaman penjajahan Belanda. Selain menjadi sarana transportasi yang menghubungkan tiga kabupaten (Lamongan- Tuban-Bojonegoro)  dulunya, jembatan ini juga menjadi lintasan kereta api jurusan Babat-Tuban.

Setelah jalur kereta api ditutup di tahun 1980-an, jembatan tersebut tidak lagi dilintasi kereta api. Bahkan rel keretanya pun tidak ada sisanya sama sekali karena diambil oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.

Bangunan jembatan begitu kokoh dan kuat karena dibangun pada jaman belanda. Begitu pula dengan papan jalan semuanya dari kayu jati. Namun karena sudah terlalu tua, dan selama puluhan tahun selalu dilintasi kendaraan, banyak papan yang lapuk dan patah. (tok)

Baca Juga :   Blora Berlakukan Tanda Tangan Elektronik

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *