Menjaring Mimpi di Tengah Panas Ladang Minyak

degan

SUASANA di sekitar wilayah sumur minyak Banyuurip, Blok Cepu siang itu tampak cerah. Gumpalan awan tipis merangkak perlahan dituntun angin. Langit masih biru ketika mentari timbul tenggelam dijilat gugusan awan.

Terik siang kali ini berbeda dari biasanya. Tampak lelaki gendut berkaos putih berdiri di tempat yang sangat sederhana, di pinggir jalan sudut Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dia adalah Takimin, warga asal Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, Bojonegoro. Penjual es degan yang mencoba beratarung di tengah hiruk pikuk ladang migas Blok Cepu.

Tak menghiraukan hawa panas yang menembus kulit, pria paruh baya itu cekatan melayani pelanggan. Lengannya yang kekar sesekali membelah kelapa muda. Kemudian menyuguhkan kepada pelanggannya dengan gelas.

Sambil melayani pembeli Takimin membuka cerita kepada SuaraBanyuurip.com terpikatnya membuka usaha jualan es degan di desa ring 1 Blok Cepu tersebut. Ibaratnya dia menjaring rupiyah di tengah para pekerja melepas lelah disaat matahari mengurai teriknya.  

“Saya jualan hanya di siang hari saja, Pak. Sorenya saya pulang ke Kapas,” ungkap Takimin.

Baca Juga :   Mengobati Kegelisahan Anak Petani

Lajang ini menjelaskan, mulai membuka usaha kecil jualan es degan di wilayah Desa Gayam baru sekira lima hari. “Saya jualan disini sejak hari Sabtu (12/1/2013) lalu, Pak,” ungkapnya.  
Usaha ini dilakukan sudah sejak usia muda, sehingga tidak kaget meskipun harus menempuh perjalanan 30 Km dari desanya. Selama lima hari berjualan ada peningkatan penghasilan dibanding hari-hari biasa saat di wilayah Kapas. Biasanya hanya mampu menghabiskan sekira 20-30 gelas, sekarang bisa terjual sekira 50 gelas lebih dalam satu harinya.

Alhamdulillah ada peningkatan penghasilan jualan di sekitar ladang Blok Cepu ini,” papar Takimin.

Untuk segelas es degan, dia pasang tarif Rp3.000. Jadi, jika seharinya bisa 50 gelas lebih maka pria bertubuh subur ini bisa meraih penghasilan per harinya Rp100.000 lebih. Tentunya belum terpotong modal.

“Dalam setiap harinya hampir kurang lebih 20 biji degan habis. Sementara hasil bersihnya dalam setiap harinya kurang lebih Rp50.000 setelah kepotong modal dan lain-lainnya,” ujarnya.

Dia akui, membuka usaha merupakan salah satu cara untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Dia hitung kurang lebih sepuluh tahun profesi itu dilakoninya. Guna mewujudkan hal itu, diperlukan tenaga dan pemikiran kreatif membaca peluang yang ada. Oleh karena itu, generasi muda yang memiliki ide-ide dalam menciptakan usaha baru. Sebab, usaha apapun adalah memiliki peranan besar untuk masa depan. Yang terpenting harus dilaluinya dengan kesabaran tidak mudah putus asa.

Baca Juga :   Bergulat dengan Lumpur Demi Pendidikan Siswa Pinggiran

“Saya sudah bersyukur meskipun sebagai penjual es degan yang terpenting halal tidak merugikan orang lain,” tukas pria berkulit sawo matang tersebut. (samian sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *