Meski penuh keterbatasan, namun tetap bersemangat.  Itulah yang tercermin dari diri Suparmi. Menjadi tukang parkir perempuan di usia senja, tak membuat dirinya berkecil hati atau patah arang dalam menjalani kehidupannya. Justru lebih mencerminkan semangat Kartini sejati.
Suarabanyuurip.com-
Terik Matahari yang seakan menggores kulit hingga harus mengeluarkan keringat dari sekujur tubuh. Tak menyurutkan semangat seorang perempuan tua, yang sedari pagi sibuk mengatur kendararaan di salah satu warung di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dengan mengenakan kerudung warna hitam, wajahnya tampak keriput. Saat tersenyum, terlihat giginya sudah tak banyak terlihat. Namun disisa-sisa kecantikan masih terlihat pada semangat nenek 66 tahun tersebut dalam menjalani kehidupannya. Dialah Suparmi, seorang perempuan yang menjadi tukang parkir di jalan Diponegoro Cepu.
Sambil membawa peluit, Suparmi tampak mondar-mandir menata sejumlah kendaraan yang terletak di depan warung makan. Sembari mengenakan topi bertuliskan “Parkirâ€, seolah Suparmi lupa bahwa dirinya perempuan tua yang seharusnya berada di rumah untuk menikmati sisa hidupnya.
Berada di rumah dan hanya menjaga cucu, mungkin cita-cita terbesar semua perempuan tua di dunia. Namun terkadang tak banyak orang yang bisa melakukan hal sederhana itu hanya karena ingin melanjutkan hidup. Seperti itulah Suparmi, meski dalam keterbatasan, dia tetap mampu tersenyum di tengah deru bising kendaraan.
“Bapak sakit, sudah hampir sebulan ini bekerja,†tutur Suparmi kepada Reporter Suarabanyuurip.com, Ahmad Sampurno di tempat dia mangkal sebagai tukang parkir.Â
Dia menceritakan jika suaminya yang berumur 80 tahun yang kini sedang sakit untuk beristirahat di rumah. Tak tega bila sang suami harus menjalankan aktivitas parkir. Sebab pernah saat beraktivitas, suaminya sempat pingsan di tempat parkir. Oleh sebab itu, dia menggantikan pekerjaan suaminya, agar tetap bisa melanjutkan dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya.
Sebenarnya Suparmi memiliki enam anak. Hanya mereka semua hidup bersama keluarga masing-masing di Kalimantan. Sehingga membua dia hanya bersama suami dan satu anaknya yang juga belum mendapat pekerjaan.
Dari ke enam anaknya yang berada di Kalimantan tersebut, dirinya bahkan lupa kapan terakhir dikunjungi. Kini hanya dia dan suaminya yang harus bekerja keras untuk melanjutkan kehidupan.
“Kami ini tidak mau merepotkan anak cucu,†tuturnya pelan.
Dengan suara yang lirih seakan menahan sedih, Suparmi mengaku, saat suaminya sehat dan mampu menjaga parkir, setiap hari dirinya juga tetap bekerja sebagai buruh cuci di rumah-rumah tetangga. Bahkan membantu apapun yang dia bisa seperti memasak maupun berbelanja.
“Ini mencari uang sedikit untuk mengobatkan suami yang sakit lambung,†tuturnya sambil mengusap airmata yang perlahan meleleh membasahi kulit wajahnya yang mulai keriput.
Bekerja memarkir kendaraan, bagi perempuan berusia 66 tahun tentu sangat berat. Bahkan mustahil bisa dilakukan oleh kaum hawa lain jika tak memiliki semangat kerja yang tinggi.
Namun tidak bagi Suparmi pekerjaan berat sudah sering dipikulnya. Jadi tidak membuat dirinya malu atau berkecil hati. Dia tetap berani berpanas-panasan sambil menata motor dan mencarikan jalan bagi kendaraan-kendaraan besar yang lewat di depannya.
“Tiap hari kadang bisa bawa pulang uang Rp. 20.000 hingga Rp.30.000, Mas. Tapi tidak menjadi soal berapapun hasil yang saya dapat tetap saya syukuri. Yang penting tidak merugikan orang lain, dan saya ikhlas mejalani ini semua,†ungkapnya sambil menyudahi ceritanya. (Ahmad Sampurno)