Desa Sekitar Pabrik Gas Usulkan Pembagian Naker

SuaraBanyuurip.comD Suko Nugroho

Bojonegoro – Desa sekitar proyek pembangunan pabrik pengolahan gas flare milik PT. Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, Jawa Timur mulai menyuarakan komposisi jumlah tenaga kerja (Naker) yang terlibat diproyek tersebut. Mereka mengusulkan agar pembagian naker harus disesuaikan dengan jarak lokasi proyek dengan desa.

Ada tiga desa di dua kecamatan yang terdampak kegiatan pembangunan pabrik gas flre itu. Yakni Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, serta Desa Sambiroto dan Ngampel, Kecamatan Kapas.

Kepala Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Pujianto, mengungkapkan, dirinya telah menyampaikan komposisi pembagian naker untuk proyek gas flare itu kepada BBS pada saat sosialisasi upaya kelola lingkungan dan upaya pengelolaan lingkungan (UKL-UPL) beberapa waktu lalu.

“Biar adil saya minta disesuaikan dengan jarak desa dengan lokasi proyek,” kata Pujianto.

Dia mengusulkan, agar pembagian naker proyek pabrik gas nanti untuk Desa Campurejo 65 persen, Desa Sambiroto 20 persen dan 15 persen dari Desa Ngampel.

“Karena Campurejo merupakan lokasi proyek (pabrik gas) jadi wajar kalau mendapatkan jatah lebih banyak,” tegas Pujianto.

Baca Juga :   Selesai Well Test, Pertamina EP Zona 11 Bakal Tutup Sumur Migas Kolibri

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Utama PT. BBS, Deddy Afidick, mengaku, belum menentukan pembagian komposisi naker untuk proyek gas flare yang akan dilaksanakan di Dusun Plosolanang, Desa Campurejo. Sebab proyek tersebut belum dimulai.

”Khan belum mulai. Tapi nanti setiap ada peluang kerja dan usaha akan kami komunikasikan lewat Pemdes,” sambung Deddy kepada SuaraBanyuurip melalui Blackberry Messengger (BBM), Minggu (20/1/2013).

Deddy mengungkapkan, jumlah total naker yang dibutuhkan selama konstruksi berlangsung diperkirakan hanya sebanyak 50 orang. Hanya saja, dia tak menyebutkan secara rinci kreteria dari jumlah naker itu apakah skill, semi skill atau unskill.

”Ini proyek kecil kok. Lahannya aja cuma 2,6 hektar (ha),” pungkas mantan Hubungan Luar Mobil Cepu Limited (MCL), operator migas Blok Cepu ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, pabrik gas oleh BUMD ini akan memanfaatkan gas flare dari Lapangan Sukowati, Blok Tuban yang dioperatori Joint Operating Body Pertamina – PetroChina East Java (JOBP-PEJ). Rencananya unitilasi pengolahan gas itu berkapasitas 20 MMSCFD dan akan mengolah gas flare menjadi Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada Februari 2013 mendatang. (suko)

Baca Juga :   Pemkab Akan Bentuk PD Khusus Migas

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *