SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Meski pemilihan kepala desa (Pilkades) di kabupaten Lamongan, Jawa Timur masih sekitar 5 bulan lagi, namun suhu pesta demokrasi mulai menghangat. Para calon kepala desa (Kades) mulai menjaring simpati massa. Bahkan sebagain dari mereka banyak yang sudah “membuka warung†untuk menjamu warga dan pendukungnya.
 Dari pantauan suarabanyuurip.com dilapangan, mayoritas kades incumbent yang masih memiliki peluang menjabat diperiode kedua terlihat berambisi merebut kursi di tingkat desa. Mereka pun berlomba-lomba menggalakan program di tingkat desa, meskipun dompleng program pemerintah untuk merebut simpati warganya. Selain itu para calon incumbent itu juga memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.
“Iya Mas, saya mencalonkan lagi. Mohon doanya saja bisa terpilih kembali,” kata Kades Jatidrojog, Kecamatan Kedungpring, Edi Hartono.
Senada juga dilontarkan sejumlah kades seperti Kades Gembong, M.Bahrul Ulum, Kades Sumurgenuk Supaad, Kades Datinawong Mundhakir. Para kades di kecamatan Babat itu, berkeinginan maju kembali dalam Pilkades.
“Mayoritas warga meminta saya untuk kembali memimpin desa Sumurgenuk. Karena desakan yang begitu kuat, saya ya nuruti kemauan masyarakat (nyalon kades kembali),” kata Supaad.
Untuk memuluskan langkah dipilkades mendatang, para incumbent berusaha lebih meningkatkan pelayanan masyarakat untuk lebih menarik simpati warganya. Selain itu mereka juga menyiapkan modal untuk pencalonan berupa barang berharga seperti mobil, tanah dan sawah yang bisa dijual saat pelaksanaan Pilkades.
“Kalau kurang ya cari pinjaman,” sergah Supaad.
Bahkan tak sedikit para kades incumbent sudah banyak yang “membuka warung†dirumahnya untuk menjamu warganya yang berkunjung. Biasanya puluhan warga datang jagongan dirumah calon kades sehabis isya’ hingga subuh. Para calon kades pun harus menjamu para pendukungnya tersebut dari kopi, rokok, hidangan hingga makan.
Seperti di Desa Karangtinggil, Kecamatan Pucuk. Dirumah Kades Masdar, selama dua minggu ini, setiap malam rumahnya selalu kebanjiran tamu yang merupakan para pendukungnya. Pilkades di Karangtinggil dipastikan akan berjalan seru karena ada sekitar 3 kandidat calon yang maju dalam pilkades.
“Hanya jagongan biasa. Warga kuatir saya tidak mau nyalon lagi,†sambung Masdar yang memiliki kans cukup besar menjabat kali kedua di Desa Karangtinggil.
Sedangkan di desa yang kepala desanya sudah menjabat dua periode, persaingan antar calon kades lebih sengit lagi. Para calon tersebut secara terang-terangan memproklamirkan diri akan nyalon.
Di Desa Geger, Kecamatan Turi, misalnya, diperkirakan ada 7 calon yang akan maju dalam Pilkades. Untuk dapat menarik simpati warga, mereka tidak hanya ‘membuka warung’ namun juga saling berlomba memberikan bingkisan kepada warga baik gula maupun makanan.
Sekadar catatan, walau jabatan kades menduduki level paling bawah di pemerintahan negeri ini, namun ongkos politik yang harus dibayarkan para calon sangatlah mahal. Mereka menganggap pencalonan itu adalah sebuah harga diri yang musti di perjuangkan. (tok)