Bergeming Mempertahankan Tilasan Leluhur

sendang lego-2

Legenda kultur di desa sekitar ladang migas Blok Cepu masih tersisa. Disana warga bertahan menguri-uri warisan nenek moyang.

TAK terasa matahari sudah mulai bergeser ke ufuk barat. Sinarnya pun mulai meredup. Semburat kuning keemasan menembus gumpalan awan hitam yang menghalanginya, bagai simbul sang surya hendak bersemayam di peraduan.

Angin semilir menggoyangkan pepohonan menambah keindahan alam sekitar lokasi proyek sumur minyak dan gas (migas) Banyuurip-Jambaran, Blok Cepu. Gemuruh mesin proyek tambang emas hitam yang dimuntahkan Mobil Cepu Ltd (MCL), anak perusahaan ExxonMobil, dari perut bumi Angling Dharma kian menjadi penanda terjadinya perusabahan.

Tak dipungkiri, keberadaan proyek Blok Cepu banyak memberikan perubahan bagi masyarakat desa sekitar tambang. Perubahan itu tak hanya pada ramainya aktivitas kendaraan proyek dan perubahan infrastruktur desa sekitar. Namun, mampu menggeser kultur masyarakat desa. Mereka yang semula mayoritas bekerja sebagai petani, sekarang banyak berubah menjadi penyedia jasa, dan pekerja proyek di ladang minyak yang konon memiliki sumber terbesar se-Asia itu.

Kendati  tak semuanya kondisi warga terubahkan, namun ada juga yang tak bisa tersingkirkan. Yakni, adat istiadat peninggalan nenek moyang yang masih melekat di warga sekitar. Semisal, tempat-tempat yang disakralkan.

Meski gemerlapnya proyek negara itu terus bergerak, namun Sendang Lego di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa-timur yang setiap tahunnya selalu dihelat ritual, Nyadran (sedekah bumi) oleh warga sekitar. Tepatnya, di hari Jumat pahing.

“Sendang Lego ini peninggalan nenek moyang kita. Jadi, perlu dilestarikan jangan sampai punah. Karena, sebagai tempat ritual  yang diyakini dapat sebagai lantaran untuk ngalap berkah,” ungkap Sakiman, juru kunci Sendang Lego.

Baca Juga :   Mencetak Uang dari Gedebok Pisang

Sambil menyusuri pematang sawah menuju lokasi Sendang Lego, pria setengah lanjut usia itu menceritakan, disebutnya Sendang Lego konon pada zaman penjajahan Belanda Sendang Lego sebagai tempat persembunyian masyarakat dari kejaran Belanda.

“Ceritanya kakek nenek dulu, warga yang ngungsi (bersembunyi) itu sangat banyak tapi selalu Lego (termuat). Sehingga, dinamakan Sendang Lego tersebut. Sebagai bentuk melestarikan peninggalan nenek moyang, setiap setahun sekali warga melakukan sedekah bumi di Sendang Lego dengan hiburan wayang krucil,” jelasnya.

Di sendang sarat legenda itu telah berdiri bangunan Joglo megah. Sambil duduk di tepian sendang yang terbangun tembok keliling, dan dikelilingi pohon bambu, dan pohon besar lainnya, sang juru kunci kembali bercerita. Selain warga sekitar lokasi migas, banyak pula warga dari luar daerah yang datang di Sendang Lego untuk ngalap berkah. Ada yang dari Blora Jawa-Tengah, Tuban, Lamongan, Nganjuk, Jawa-Timur. Bahkan ada juga yang dari Jakarta dengan berda-beda permintaan.

Yakni, ada yang minta naik pangkat, lancar usahanya, minta segera dapat jodoh, segera diberi keturunan dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Namun, sebelum melakukan ritual mereka harus membasuh muka dengan air sendang terlebih dulu. Tujuannya agar tidak terjadi sesuatu pada dirinya.

“Siapapun yang masuk Sendang Lego ini harus membasuh mukanya dulu dengan air sendang. Agar Mbah Singo Joyo (Penunggu Sendang Lego-Red) tidak mengganggu,” tutur Sakiman, sambil membetulkan baju hitamnya yang tertiup angin. 

Baca Juga :   Raih Omset Rp1,15 Milyar Dengan 39 Karyawan

Disinggung terkait syarat dalam melakukan ridual, bapak dari satu anak itu mengaku, terlebih dulu harus menyiapkan kembang wangi, cengkir (kelapa muda), dan kemenyan. Lain itu, setelah berhasil nazar yang dijanjikan harus terwujud. Karena, jika tidak terwujud biasanya ada ganguannya. Entah itu sakit atau bangkrut usahanya. Sedangkan, terkait dengan nazar itu relatif. Ada yang menyembelih kambing, dan ada juga yang sederhana cukup dengan tumpengan biasa.

“Kalau semua syaratnya sudah cukup baru prosesi ritual dilakukan. Namun, belum pernah ada yang lupa janjinya. Sehingga, selama ini juga tidak pernah terdengar ada keruwetan bagi orang yang ngalap berkah di Sendang Lego ini,” akunya.

Panjang lebar sang juru kunci mengungkap legenda Sendang Lego. Tak terasa senja sudah mulai beralih petang. Sayup-sayup terdengar adzan magrib  berkumandang. Dia pun berpesan, meski banyak perubahan adanya sumber minyak Banyuurip, Blok Cepu, peninggalan nenek moyang jangan sampai dihilangkan. Harus tetap dilestarikan agar tidak punah sejarah peninggalannya.

“Alhamdulillah, Mas, sampai sekarang peninggalan nenek moyang yang ada di sekitar Blok Cepu masih diuri-uri warga. Selain Sendang Lego, di Mojodelik  juga ada Sendang Pelem 1, Pelem 2, Gempol 1, Gempol 2. Putat, Pasinan dan Ngampel,” demikian ungkap Sakiman. (samian sasongko)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *