SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Kebijakan pemerintah mengubah-ubah harga BBM menjadikan pengusaha SPBU terancam merugi. Mereka memilih menunda pembelian ke Pertamina. Dampaknya, masyarakat kesulitan memperoleh BBM karena stok di SPBU habis.Â
Bagi masyarakat kecil, kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai postif, meskipun belum mempengarhui turunya harga kebutuhan pokok. Namun tidak bagi pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Karena kebijakan pemerintah yang berubah-ubah itu telah mengakibatkan mereka terancam merugi.
Alasannya sederhana, para pengusaha itu membeli BBM dari Pertamina dengan harga lama. Namun dengan tiba-tiba pemerintah mengumumkan penurunan harga yang wajib dilaksanakan oleh semua SPBU. Padahal stok BBM para pengusaha SPBU itu masih penuh karena sepinya pembeli yang menunggu turunya harga BBM.Â
Tercatat, pada kurun belum ada satu bulan pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi-JK) menurunkan harga BBM dua kali, setelah sebelumnya sempat manikkan harga BBM. Penurunan pertama terjadi pada per Januari 2015, dan rencananya pada Minggu (18/1/2015) pukul 00.00 WIB, karena terus merosotnya harga minyak dunia.
Surat rencana penurunan harga BBM itu telah di layangkan Pertamina ke semua SPBU di Indonesia, termasuk di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dalam surat tersebut disebutkan harga BBM jenis premium turun menjadi Rp 6.600 per liter dari sebelumnya Rp7.600/liter dan solar Rp 6.400 per liter dari Rp7250/liter.
Padahal, sebelum menurunkan harga BBM per Januari 2015 lalu, pemerintah sempat menaikkan harga BBM Rp2000 perliter. Sehingga menjadikan premium dari Rp6.500/liter menjadi Rp8.500/liter, dan solar dari Rp6000/liter menjadi Rp8.000/liter. Â
Pengawas SPBU Kecamatan Kedungtuban, Hengki, mengungkapkan, paska pengumuman penurunan harga BBM menjadikan keuntungan yang didapat SPBU juga ikut menurun, terutama pada BBM jenis solar. Karena ketersediaan solar di SPBU saat masih pada angka 26 kilo liter. Jumlah itu belum banyak terkurangi, karena para petani belum begitu membutuhkan solar.
“Di sini yang paling banyak menggunakan solar adalah petani. Sehingga stok solar masih banyak,†kata Hengki kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (17/1/2015).Â
Menurut dia, keputusan pemerintah yang melakukan perubahan harga BBM pada awal Januari lalu telah mengurangi keuntungan SPBU. Kondisi tersebut akan diperparah dengan berlakunya harga BBM baru pada 19 Januari 2015 nanti.
“Penurunan keuntungan bahkan kerugian akan sangat terasa pada Senin, 19 Janurai besuk,†tegasnya Hengki.Â
Disamping itu, Hengki mengaku, juga akan mengalami kerugian pada penjualan BBM jenis Premium yang rencananya turun dari harga Rp7.600 per liter menjadi Rp 6.700 per liter pada Senin pekan depan.Â
“Kami sudah menerima pemberitahuan resmi dari pertamina terkait perubahan harga BBM yang baru,†jelasnya.Â
Kabar penurunan harga BBM ini ternyata berdampak pada stok di SPBU. Di perkirakan para pengusaha SPBU enggan membeli ke Pertamina karena akan menderita kerugian jika pemerintah menurunkan harga.
Dampaknya, masyarakat kesulitan memperoleh BBM di SPBU. Para pengendara yang hendak membeli BBM Jenis Premium maupun pertamax harus putar arah karena stok di SPBU habi sejak Jum’at (16/1) malam pukul 19.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB. Pengiriman BBM dari Pertamina belum juga sampai di SPBU.
“Mau beli habis, Mas,” salah satu pengendara motor ketika akan membeli BBM di SPBU Kedungtuban, Sabtu (17/1/2014) pagi.Â
Untuk menghindari kekecewaan konsumen, terpaksa pegawai SPBU memasang tanda pemberitahuan di pintu masuk dan keluar. “Kiriman dari Pertamina telat, Mas,†kata Hengki pada wartawan.Â
Bukan hanya Premium, akan tetapi Pertamax juga mengalami kehabisan stok. “Untuk Pertamax memang sengaja kami tidak memesan pada pertamina, kami tunda dulu untuk pemesanan pertamax untuk menghindari kerugian. Selain itu kami tidak punya DO-nya (Delevery Order),†ungkapnya.Â
Dia mengatakan, Pertamax baru akan dipesan senin pekan depan bersamaan dengan penerapan harga BBM yang baru. “Senin nanti kami baru memesan Pertamax pada Pertamina,†katanya.(ams)Â