SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Ratusan warga Dusun Koro, Desa Pong Pongan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur mengkhawatirkan kegiatan penambangan yang akan dilakukan PT Semen Gresik (PT) SG di desa mereka. Sebab jika SG mulai melakukan penambangan itu maka tambang batu kumbung tradisional milik warga setempat akan ditutup oleh salah satu perusahaan badann usaha milik negara (BUMN) tersebut.
Sebab lahan batu kumbung yang ditambang warga sekarang ini sudah berpindah tangan ke SG. Sebelumnya lahan tersebut adalah milik Perhutani.
“Kalau penambangan sudah dilakukan diwilayah ini, pasti tambang yang kami garap akan ditutup,†ujar Hartono  (40), salah satu penambang asal Dusun Koro saat ditemui www.suarabanyuurip.com dilokasi tambang desa setempat, Jum’at (1/2/2013).
Apabila penutupan tambang sampai dilakukan warga hanya bisa pasrah dan tidak tahu mesti bekerja apa lagi. Pasalnya dari tahun 1983 hingga sampai saat ini, semua warga yang ada di dusun Koro menggantungkan hidupnya pada hasil tambang batu kumbung yang mereka bentuk menjadi bata sebagai bahan bangunan.
 “Tidak ada pekerjaan lain, meski daerah sini dekat pabrik. Sebab kami tidak akan pernah bisa bekerja disana,†sambung Hartono.
Pantauan dilokasi, area tambang ditempat tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh warga Dusun Koro. Tapi juga beberapa desa lain yang berada dari kecamatan lain, seperti Kecamatan Kerek dan Kecamatan Montong, Tuban.
“Kalau saya sejak kecil mas diajak menambang orang tua disini,†tambah Darmaji (47), warga Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Tuban, Jatim.
Dijelaskan salah satu perangkat Desa Pong Pongan, Rustamuri, awalnya lahan yang dimanfaatkan warga untuk melakukan penambangan merupakan milik Perhutani. Tapi sejak tahun 2010 lalu lahan tersebut sudah ditukar guling dan menjadi milik PT SG yang saat ini berganti menjadi PT Semen Indonesia (PT SI) untuk kebutuhan produksi Tuban IV.
Karena itu, Rustamuri berharap, perusahaan memperhatikan keberlangsungan nasib ratusan penambang batu kumbung yang ada ditempat tersebut.
“Ya tolonglah, kalau misal penambangan disini akan ditutup. Perusahaan harus memikirkan jalan keluar untuk warga yang melakukan penambanagan,†kata Rusatamuri.
Diakui Rustamuri, semua keluarga yang ada di Dusun Koro bergantung pada aktifitas penambangan tradisional ini. Menurut catatannya, untuk Dusun Koro saja ada sekitar 450 penambang yang menggantungkan hidupnya pada aktifitas penambangan ini.
“Kalau sampai ditutup, warga mau makan apa mas?,†pungkas Rustamuri.(edp)