Terkesan Saat Menyisir Korban Tenggelam Bengawan Solo

babat

SuaraBanyuurip.com - 

Menjadi relawan perempuan dibutuhkan mental baja. Karena selain menghadapi bencana, gosip minor tak jarang mendera.

Itu pernah dialami Bunda Wafi. Sebagai satu-satunya perempuan di korps suka relawan (KSR), aktifitas sosial yang dilakoni Bunda Wafi sempat mengundang pandangan miring tetangganya. Sebab sebagai anggota sukarelawan ia dituntut untuk selalu siap sedia kapanpun dibutuhkan ketika benca datang. Tak peduli itu pagi, siang, sore maupun tengah malam.

Karena tugas sosialnya itulah Bunda Wafi kerap keluar rumah. Kondisi itulah yang ternyata menjadi pergunjingan tetangganya. Sebab pada waktu itu Bunda Wafi berstatus single parent.

“Status itulah yang menjadikan banyak orang sempat menilai saya negatif,”  kenang Bunda Wafi.

Namun gunjingan itu dia anggap angin lalu. Ia tak menyurutkan niatnya untuk terus aktif dalam KSR.  “Saya pasrahkan semuanya kepada sang khalik. Karena Dia lah yang Maha Tahu segalanya,” tuturnya.

Anggapan minor tetangga tentang status janda yang disandang Bunda Wafi pun sirna ketika Sang Pencipta menganugrahkan seorang suami. Pendamping hidup yang sangat mendukung semua kegiatannya sebagai relawan. Disamping memberikan support, Hartono Andon Jaya, suami Bunda Wafi, yang memiliki sejumlah usaha banyak membantu materi kepada korban bencana yang ia tangani.

Baca Juga :   Lelaki Tua di Sudut Pemboran Alas Tua Barat

“Kapanpun dan dimanapun tenaga saya dibutuhkan, suami saya selalu mendukung,” ungkap Wafi bangga.

Dengan dukungan suami dan niatnya yang besar membantu sesama, Wafi pun memantapkan keahlihannya dalam menangani bencana. Berbagai pendidikan dan latihan (diklat) penanganan bencana yang diadakan Palang Merah Indonesia (PMI) Lamongan ia ikuti. Meski pun dia harus mengeluarkan kocek pribadi. Diantaranya diklat satuan tugas (Satgas), selama dan sebagainya di Balai Kambang, Kota Malang, Jawa Timur.

“Karena selain niat, keahlihan juga diperlukan dalam penanganan bencana,” sergah Bunda Wafi.

Dia mengaku, tergabung dalam KSR cukup kenyang berada dilokasi bencana dengan resiko kehilangan nyawa. Pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mencari mayat seorang anak yang tenggelam di Bengawan Solo. Ia ikut menyisir sungai terpanjang di Pulau Jawa itu dengan naik perahu karet dari siang hingga malam hari.

Padahal ketika itu, kata Wafi, air bengawan sedang deras-derasnya. Perahu yang ditumpanginya terombang-ambing oleh arus. Ditambah lagi malam hari kondisi gelap gulita.

“Pengorbanan itu akhirnya tertebus saat kita berhasil menemukan korban tenggelam,” kenang Wafi.

Baca Juga :   Manisnya Es Buah di Ladang Migas ATW

Selain membantu evakuasi banjir, wanita yang memiliki 27 anak asuh ini, kerap turun dilokasi kebakaran. Beberapa kali dirinya juga dikirim ke lokasi bencana diluar daerah seperti membantu korban gempa bumi di Yogyakarta dan saat Gunung Bromo meletus. Ia pun harus tinggal berhari-hari dilokasi bencana dan tidak akan pulang sebelum korban bencana tertangani semua.

“Saya hanya ingin membantu sesama. Apapun resikonya. Soal hidup mati, saya serahkan semuanya kepada Allah,” pungkas Wafi.

Menjadi sukarelawan merupakan pilihan hidup Wafi. Karena itu pula dia bertekad akan tetap setia menjadi anggota KSR sampai raganya tidak berdaya lagi.(totok martono)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *